INDOZONE.ID - Siapa yang nggak kenal kue cubit, serabi, atau pukis? Jajanan ini sudah jadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia — dari pedagang kaki lima sampai kafe kekinian.
Tapi, pernah kepikiran nggak kalau beberapa di antaranya ternyata punya “garis keturunan” yang nyambung ke camilan klasik dari Eropa?
Ya, jawabannya ada pada poffertjes — pancake versi mini khas Belanda yang ukurannya kecil tapi punya pengaruh besar dalam dunia kuliner, termasuk di Indonesia.
Baca juga: Tangga Spiral Asli Menara Eiffel Siap Dilelang, Segini Harganya
Poffertjes: Kecil, Lembut, dan Punya Sejarah Panjang
Poffertjes dikenal sebagai pancake mini yang empuk dan ringan. Ukurannya hanya sekitar beberapa sentimeter, dimasak di wajan khusus dengan cekungan bulat kecil, lalu disajikan dengan gula halus dan mentega yang meleleh di atasnya.
Menariknya, camilan ini sudah ada sejak sekitar tahun 1720. Konon, poffertjes awalnya dikembangkan oleh para biarawan di wilayah Belanda, dekat kota Woerden.
Hingga sekarang, makanan ini masih jadi ikon kuliner yang sering muncul di acara besar seperti pasar malam (kermis), festival, hingga pasar Natal di Belanda.
Baca juga: Auto Ngiler! Bubur Madura Ini Ternyata Punya 4 Rasa Sekaligus dalam Satu Mangkuk
Pengaruh Belanda dalam Kuliner Indonesia
Selama lebih dari tiga abad, Indonesia berada di bawah pengaruh kolonial Belanda. Dalam rentang waktu yang panjang itu, terjadi pertukaran budaya yang signifikan — termasuk dalam hal makanan.
Banyak teknik memasak, bahan, hingga jenis hidangan dari Eropa yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat lokal.
Namun, alih-alih meniru mentah-mentah, orang Indonesia justru mengolahnya sesuai selera lokal — menggunakan santan, gula aren, pandan, dan bahan khas Nusantara lainnya.
Dari sinilah muncul berbagai kue tradisional yang “terinspirasi” dari hidangan Belanda, termasuk yang punya kemiripan dengan poffertjes.
Baca juga: Hidden Gem Kuliner Madura: Tajin Sobih, Bubur Manis Gurih yang Punya Rahasia Rasa Unik
Kue Cubit: Versi Mini yang Paling Mirip
Kalau bicara soal kemiripan, kue cubit bisa dibilang sebagai “saudara kembar” poffertjes versi Indonesia.
Ukurannya kecil, sekitar 4 cm, dan dimasak menggunakan cetakan khusus yang bentuknya sangat mirip dengan wajan poffertjes. Bahan dasarnya pun nggak jauh beda — tepung, telur, susu, dan gula.
Yang bikin beda adalah sentuhan lokalnya. Kue cubit biasanya diberi topping meses cokelat (hagelslag ala Belanda yang juga populer di Indonesia), keju, atau bahkan varian kekinian seperti matcha dan red velvet.
Nama “cubit” sendiri berasal dari cara makannya — karena kecil, kue ini biasanya diambil dengan cara dicubit langsung.
Baca juga: Kenali Macam-macam Latte Art: Pemula Wajib Tahu!
Kue Serabi: Tradisional, Gurih, dan Variatif
Berbeda dengan kue cubit, kue serabi punya karakter yang lebih tradisional dan khas Indonesia. Jajanan ini populer di daerah seperti Solo dan Bandung, dengan ukuran yang lebih besar, sekitar 10 cm.
Adonannya dibuat dari tepung beras atau tepung terigu yang dicampur santan dan gula, menghasilkan rasa gurih-manis yang khas. Kadang ditambahkan pandan untuk aroma harum dan warna hijau alami.
Cara memasaknya juga unik — biasanya menggunakan wajan tanah liat kecil di atas arang, lalu ditutup agar matang merata. Teknik ini memberikan aroma smoky yang khas dan sulit ditiru dengan alat modern.
Soal topping, serabi punya banyak versi:
Baca juga: Fakta Pecel Semanggi, Kuliner Ikonik Surabaya yang Diakui Negara Tapi Terancam Hilang
- Tradisional: kelapa parut, gula merah cair
- Modern: cokelat, keju, stroberi
- Bahkan ada versi gurih: ayam suwir, kornet, hingga telur
Hal ini menunjukkan bagaimana satu jenis makanan bisa terus berkembang mengikuti zaman.
Kue Pukis: Evolusi yang Lebih Modern
Kalau kue pukis, bisa dibilang sebagai versi yang paling “berbeda” dari poffertjes, tapi masih dalam satu garis inspirasi.
Baca juga: Bukan Nasi Biasa! Ini Kisah Haru di Balik Nasi Kapau yang Jarang Diketahui
Bentuknya setengah lingkaran, dimasak dalam cetakan khusus, dengan tekstur yang lebih mirip cake atau waffle.
Bagian atasnya lembut, sementara bagian bawahnya kecokelatan karena dipanggang langsung di atas api.
Adonan pukis menggunakan ragi, yang membuat teksturnya lebih mengembang dan empuk. Bahan lainnya termasuk telur, gula, tepung, dan santan — lagi-lagi menunjukkan perpaduan teknik Eropa dan cita rasa lokal.
Topping-nya juga beragam:
Baca juga: Kamu Tim Ote-Ote atau Bala-Bala? Ini Daftar Nama Bakwan di Berbagai Daerah di Indonesia
- Meses dan keju (paling klasik)
- Selai nanas
- Sukade (potongan buah manisan seperti pepaya)
- Hingga varian modern yang lebih kreatif
Lebih dari Sekadar Jajanan
Kalau dilihat sekilas, mungkin kue cubit, serabi, dan pukis hanyalah camilan biasa. Tapi sebenarnya, mereka adalah bukti nyata bagaimana budaya bisa berbaur dan menciptakan sesuatu yang baru.
Poffertjes mungkin berasal dari Belanda, tapi ketika “bertemu” dengan bahan dan selera lokal Indonesia, lahirlah versi-versi unik yang justru lebih dekat dengan lidah masyarakat sini.
Baca juga: Ini Rahasia Coto Makassar Jadi Hidangan Favorit Bangsawan hingga Juara Dunia
Inilah yang membuat kuliner Indonesia begitu kaya — bukan hanya soal rasa, tapi juga cerita di baliknya.
Jadi, lain kali saat kamu menikmati kue cubit setengah matang, serabi hangat, atau pukis empuk di sore hari, ingat satu hal: kamu nggak cuma lagi makan jajanan, tapi juga mencicipi sejarah panjang perpaduan budaya yang sudah berlangsung ratusan tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Keasberry.com