Bangunan di Kampung Adat Bena. (wonderfulindonesia.co.id)
INDOZONE.ID - Flores tidak pernah kehabisan magisnya untuk membuat siapa saja terpana. Selain Labuan Bajo yang super populer, ada satu destinasi budaya di dataran tinggi Bajawa yang menawarkan atmosfer luar biasa. Namanya Kampung Adat Bena, sebuah permukiman purba tersembunyi di mana waktu seolah berhenti berputar.
Begitu kamu melangkahkan kaki di atas bebatuan pintu masuk kampung, suasananya langsung berubah drastis. Deretan rumah beratap ilalang berdiri rapat, undakan batu membentuk halaman bertingkat, dan di kejauhan, Gunung Inerie berdiri gagah seolah menjadi benteng pelindung abadi. Bena bukanlah sebuah museum mati, ia adalah kampung hidup yang denyut nadinya masih dituntun erat oleh tradisi leluhur.
Secara administratif, Kampung Adat Bena bertengger di Desa Tiworiwu, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Destinasi ini sangat mudah diakses dari Kota Bajawa, pusat aktivitas di wilayah Ngada.
Bena dikenal luas sebagai salah satu kampung megalitik tertua di Nusantara. Berada di punggung bukit, tata letak kampung ini terlihat seperti panggung batu raksasa yang menghadap langsung ke alam bebas. Jika dilihat dari ketinggian, susunan rumah di Bena membentuk pola memanjang berhadapan seperti huruf "U" yang menyerupai sebuah perahu.
Kampung ini dihuni oleh warga yang terikat dalam sistem klan. Total ada sekitar 45 unit rumah adat yang dibagi ke dalam 9 suku (klan), di antaranya Suku Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, dan Ago.
Uniknya, undakan batu dan tinggi lantai rumah di sini tidak dibuat sembarangan. Ketinggian lantai bangunan menjadi penanda hierarki, status, serta peran sosial masing-masing suku di dalam masyarakat.
Kampung Adat Bena (wonderfulindonesia.co.id)
Jangan cuma melihat rumah-rumah ini dari jauh. Coba dekati dan tengok bagian puncak atapnya, karena di sana terdapat "kartu identitas" pemilik rumah:
Di area tengah kampung terdapat halaman terbuka tanpa pagar yang disebut Kisanatapat (atau Kisa Nata). Area ini bukan sekadar alun-alun biasa, melainkan ruang sakral tempat warga berkomunikasi dan menggelar ritual adat bersama para leluhur. Di sinilah sepasang simbol ikonik Bena berdiri tegak:
Baca juga: Bikin Pikiran Adem, Ini Alasan Danau Tanralili Jadi Tempat Sempurna Buat 'Digital Detox' Akhir Pekan
Salah satu pemandangan paling estetik dan alami di Bena adalah kesibukan para perempuan yang sedang menenun kain ikat di teras rumah mereka. Aktivitas ini murni bagian dari keseharian dan roda ekonomi mereka, bukan sekadar akting atau pertunjukan untuk turis.
Kain tenun ikat khas Bena memiliki ciri khas yang sangat disukai kolektor kain Nusantara. Warna dasarnya menggunakan biru nila (indigo) alami, dengan detail garis merah dan kuning cerah pada bagian tepi bawah kain. Beberapa motif populernya antara lain jara (kuda), wa’i manu (cakar ayam), hingga motif geometris ghi’u.
Tips Etika: Jika tertarik membeli kain tenun di sini untuk oleh-oleh, tawarlah dengan harga yang wajar dan sopan. Ingat, kamu tidak hanya membeli selembar kain, tapi sedang menghargai waktu, ketekunan, dan warisan teknik budaya yang rumit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wonderfulindonesia.co.id