Sejarah Kampung Naga bahasa Sunda. (Instagram/@kampungnaga_tasikmalaya)
INDOZONE.ID - Sejarah Kampung Naga di Neglasari, Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar), layak dikulik. Bagaimana tidak, desa ini tetap mempertahankan keaslian tradisinya di tengah perkembangan zaman yang makin masif.
Nilai tradisi yang masih kental, membuat Kampung Naga menjadi unik. Bahkan, Kampung Naga berpedoman pada nilai-nilai warisan nenek moyang, yaitu warisan tampak dan tidak tampak.
Sejarah Kampung Naga bahasa Sunda. (Instagram/@kampungnaga_tasikmalaya)
Lalu, Kampung Naga tidak punya banyak aturan, tapi memiliki larangan yang dikenal dengan istilah “pamali”. Dalam bahasa Sunda, pamali merujuk pada sesuatu yang dianggap tidak baik dan dijauhi.
Contoh paling sederhana adalah bentuk rumah di Kampung Naga yang sama dengan jumlah tidak boleh lebih dari 110.
Baca juga: Kampung Naga Tasikmalaya Ini Masih Mempertahankan Tradisi di Era Perkembangan Zaman
Rumah di Kampung Naga dibangun dengan bahan-bahan alami, seperti kayu, bambu, jerami, dll. Di sana, rumah tidak boleh dibangun dengan semen, beton, cat tembok.
Lebih unik lagi, Kampung Naga tidak memperbolehkan aliran listrik. Sebab, keberadaan listrik dianggap bisa mengurangi interaksi antarwarga setempat karena sibuk di rumah untuk menonton tv atau bermain hp.
Oleh sebab itu, warga di sana memanfaatkan hal-hal alami untuk kegiatan sehari-hari. Sebut saja, memakai setrika arang, memasak dengan kayu bakar, dan menggunakan lampu petromak dari minyak tanah.
Selain, contoh-contoh di atas, Kampung Naga punya aturan adat lain yang melekat pada masyarakatnya.
Sementara itu, mata pencaharian warga Kampung Naga pun erat kaitannya dengan alam, tepatnya pertanian dan perkebunan, baik sebagai pemilik, penggarap, maupun buruh tani.
Selain bertani, sebagian masyarakat Kampung Naga juga memanfaatkan hasil alam menjadi kerajinan tangan yang dijual ke pasaran.
Lalu, karena ditetapkan sebagai tempat wisata budaya, sebagian warga juga berprofesi sebagai tour guide.
Menilik penjelasan di atas, kamu memahami bahwa Kampung Naga amat menghargai tradisi dari nenek moyangnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Traveloka, Upi.edu, Jurnal Universitas Perjuangan Tasikmalaya