Nasi tumpeng berbentuk kerucut yang melambangkan hubungan manusia dengan tuhan.
INDOZONE.ID – Tradisi membuat tumpeng telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Jawa sejak zaman dahulu.
Bukan sekadar hidangan, tumpeng mengandung nilai-nilai kehidupan yang mendalam dan diyakini membawa berkah bagi yang merayakannya.
Masyarakat Jawa percaya bahwa meninggalkan tradisi ini bisa mendatangkan kesialan, sehingga hingga kini, mereka terus melestarikan budaya tersebut.
Seiring perkembangan zaman dan masuknya budaya modern, tradisi membuat tumpeng memang mulai menghadapi tantangan.
Namun, semangat masyarakat untuk menjaga warisan ini tetap tinggi. Tumpeng kini tak hanya hadir dalam upacara adat, tetapi juga dalam perayaan ulang tahun, syukuran kantor, hingga acara kenegaraan.
Tumpeng memiliki bentuk kerucut yang menyerupai gunung, melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan.
Puncaknya yang lancip menggambarkan perjalanan hidup, sementara bagian bawah yang lebar menggambarkan awal kehidupan yang penuh tantangan.
Baca Juga: Bukan Sekedar Makanan, Ini Makna Tumpeng dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Sayuran dan lauk-pauk yang mengelilingi tumpeng melambangkan kekayaan alam, yang mengingatkan umat manusia untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan.
Tumpeng memiliki berbagai varian, masing-masing dengan filosofi tersendiri:
Tumpeng besar dikelilingi empat tumpeng kecil. Bentuk ini melambangkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya, serta diartikan sebagai Pancasila sebagai dasar negara.
Tumpeng ini melambangkan rasa syukur atas kehidupan berumah tangga dan penghormatan terhadap leluhur yang membuka desa.
Tumpeng tunggal yang dikelilingi urap-urap ini mengingatkan bahwa manusia berasal dari bumi dan akan kembali ke bumi.
Sebelum disantap, tumpeng biasanya didoakan bersama. Masyarakat Jawa percaya bahwa makanan yang telah diberkahi akan membawa kebaikan bagi yang memakannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Sejarah Kebudayaan