INDOZONE.ID - Pesisir Kalimantan Selatan terkenal akan kekayaan laut melimpah. Ketersediaan sumber hasil laut melimpah mendorong warga lokal berkreasi dengan menciptakan olahan produk yang jarang terekspos, salah satunya adalah olahan ronto.
Olahan ronto adalah pasta hasil fermentasi udang rebon segar. Ronto biasanya menjadi bahan pelengkap pembuatan sambal yang menghasilkan cita rasa menggoda lidah.
Proses pembuatan fermentasi ini umumnya dilakukan oleh masyarakat pesisir Kalimantan Selatan, terutama mereka yang tinggal di dekat pantai di Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Kota Baru.
Kebiasaan ini telah diwariskan dari generasi ke generasi, dengan teknik yang dipertahankan untuk menjaga keaslian rasa dan kualitas produk.
Baca Juga: Peran Saccharomyces Cerevisiae dalam Fermentasi Roti
Pasta Ronto adalah hasil fermentasi dari udang, garam dan nasi dengan perbandingan masing masing 7:1:2. Pembuatan ronto dimulai dengan mencampurkan bahan segar dalam wadah tertutup.
Proses fermentasi yang berlangsung dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen) selama sekitar dua minggu. Awalnya tekstur bahan terlihat kasar, setelah melewati proses fermentasi, beberapa hasil tekstur kasar, berubah menjadi halus berair mirip pasta yang berwarna merah muda.
Selama fermentasi, mikroorganisme bekerja mengurai bahan-bahan dan menghasilkan pasta kaya rasa umami, sedikit asam, dan aroma yang kuat.
Fermentasi biasanya dimulai setelah panen udang rebon yang melimpah. Proses ini memakan waktu sekitar dua minggu, tetapi dapat bervariasi tergantung pada suhu dan kondisi lingkungan. Waktu fermentasi yang tepat penting untuk mencapai keseimbangan rasa yang diinginkan.
Kegiatan fermentasi pasta udang ini banyak dilakukan di desa pesisir Kalimantan. Lingkungan pesisir yang memiliki bahan melimpah dan kondisi cuaca yang mendukung, menjadikan tempat ini ideal untuk fermentasi alami.
Baca Juga: Segarnya Salgam Suyu, Jus Tradisional Turki yang Terbuat dari Fermentasi Wortel Hitam
Masyarakat setempat biasanya memanfaatkan wadah khusus untuk menjaga proses fermentasi tetap stabil.
Fermentasi tidak hanya berfungsi sebagai metode pengawetan, tetapi juga memperkaya rasa dan meningkatkan nilai gizi dari bahan-bahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal UGM