Pasar Ngatpaing Cepogo Boyolali
INDOZONE.ID - Buat kamu yang ingin makanan tradisional tempo dulu dengan nuansa pedesaan yang asri, kamu bisa berkunjung ke Desa Wisata Pasar Ngatpaing yang berada di lereng kaki Gunung Merapi tepatnya di Dukuh Dangean, Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Di tempat ini, pengunjung bisa menikmati makanan tradisional jaman dulu dengan alat bayar koin benggol. Kamu juga bisa menikmati kesenian tempo dulu, hingga melihat para pedagang yang menggunakan kostum lurik khas tempo dulu.
Untuk sampai ke lokasi ini pengunjung bisa menggunakan kendaraan sepeda motor atau mobil dari Boyolali Kota dengan jarak sekitar 5 kilometer menuju arah Kecamatan Cepogo melalui jalur Solo-Selo-Borobudur.
Sesampainya di pertigaan Desa Paras, ambil ke arah kiri menuju Stadion Kebo Giro Boyolali, dari Stadion Kebo Giro, Paras Boyolali menuju arah barat sekitar 2 kilometer dan masuk ke Desa Gedangan, Cepogo, Boyolali.
Nah, bagi pengunjung yang tiba di Desa wisata Dangean, di sana sudah banyak petunjuk menuju arah Pasar Ngatpaing yang lokasinya berada di Bukit Tegalan atau di sekitar perkebunan warga yang tidak jauh dari perkampungan.
Pasar Ngatpaing Cepogo Boyolali
Untuk masuk ke Pasar Wisata Dangean ini, pengunjung tidak dipungut biaya. Namun saat sampai di pintu masuk, pengunjung yang akan menikmati makanan tradisional tempo dulu harus menukarkan uang rupiah terlebih dahulu menjadi uang koin kepingan benggol, karena uang rupiah tidak berlaku selama transaksi dengan para pedagang di lokasi ini.
Untuk satu keping uang koin benggol harganya Rp5 ribu, namun pengelola sudah menyiapkan satu paket keping uang koin benggol berisikan 10 koin keping benggol dengan harga Rp50 ribu.
Menariknya lagi, jika uang benggol tersebut tidak habis untuk jajan, maka bisa dikembalikan lagi kepada pengelola atau kasir yang berada di depan pintu masuk.
Pasar Ngatpaing Cepogo Boyolali
Berbagai menu tradisional tempo dulu dijual oleh para pedagang, mulai dari sawut, sego jagung, gemblong, gatot, cetil, gudangan, satay, gado gado, baceman, hingga minuman khas seperti jahe, kuwut, wedang ronde, hingga es degan.
Menurut salah satu pedagang, Niniyarti (56) dia ikut berdagang di sini sudah sekitar 8 tahun. Awalnya dulu ada 35 pedagang yang ikut jualan, semuanya warga Desa Dangean dan Gedangan. Dan untuk makanan yang dijual disini semuanya harus makanan tradisional tempo dulu seperti tiwul, ketan hitam, ketan putih, jadah, sego jagung dan lainnya.
Selain itu, pakaian para pedagang juga harus tradisional yaitu lurik tempo dulu. Bagi pengunjung yang hendak membeli dagangan, harus menukarkan uang rupiah ke uang koin dulu yang ada di kasir depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung