INDOZONE.ID - Bicara soal ikon transportasi di Jakarta, Stasiun Gambir pasti jadi yang pertama terlintas di pikiran. Berdiri megah tepat di depan Monumen Nasional (Monas), stasiun ini bukan sekadar tempat pemberhentian kereta eksekutif, tapi juga saksi bisu transformasi ibu kota sejak zaman kolonial Belanda hingga saat ini.
Siapa sangka, stasiun yang kini super modern ini dulunya hanya sebuah halte kecil bernama Station Weltevreden yang dibangun Belanda pada akhir abad ke-19.
Penasaran bagaimana sejarah panjang dan peran strategis stasiun legendaris ini dalam dunia transportasi nasional? Yuk, kita bedah tuntas profilnya!
Baca juga: Syarat dan Cara Refund Tiket Kereta Api KAI Online dan Offline, Mudah Banget!
Sebagai salah satu stasiun utama di ibu kota, Stasiun Gambir memiliki peran penting dalam perjalanan transportasi kereta api di Indonesia. Letaknya yang strategis di pusat kota, membuat stasiun ini menjadi pusat mobilitas yang vital bagi berbagai lapisan masyarakat. Hingga kini, Stasiun Gambir dikenal sebagai pusat keberangkatan kereta api jarak jauh kelas eksekutif dengan rute ke berbagai kota besar di Pulau Jawa.
Lebih dari sekadar tempat naik turun penumpang, Stasiun Gambir menjadi bagian dari perkembangan sistem transportasi nasional. Perannya terus berubah mengikuti kebutuhan zaman, mulai dari era kolonial hingga modern, sekaligus mencerminkan dinamika pertumbuhan kota Jakarta.
Sejarah Stasiun Gambir bermula pada 1884 ketika pemerintah kolonial Belanda membangun stasiun ini dengan nama Station Weltevreden. Pada awal operasionalnya, bangunan stasiun masih berbentuk sederhana dan difungsikan sebagai pemberhentian kereta yang menghubungkan kawasan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) dengan Batavia.
Memasuki 1928, bangunan stasiun ini mengalami perombakan besar yang dirancang oleh arsitek berdarah Belanda F.J.L. Ghijsels dengan gaya art deco. Desain tersebut memberikan ciri khas bentuk geometris dan tampilan modern yang mencerminkan perkembangan arsitektur pada masa itu.
Setelah Indonesia merdeka, nama stasiun kemudian diubah menjadi Stasiun Gambir, menyesuaikan dengan nama wilayah tempat stasiun berada.
Baca juga: Rute Kereta Bengawan 2026: Jadwal, Harga Tiket, Tempat Duduk Hingga Fasilitas
Perubahan besar kembali dilakukan pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an melalui renovasi menyeluruh. Bangunan stasiun dikembangkan menjadi dua lantai dengan konsep arsitektur modern tropis yang ditandai warna hijau dan kuning sebagai identitas khasnya. Bersamaan dengan itu, fungsi stasiun difokuskan sebagai pusat layanan kereta api jarak jauh kelas eksekutif.
Transformasi ini menjadikan Stasiun Gambir sebagai gerbang utama perjalanan antarkota dari Jakarta menuju berbagai daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga Malang. Karena difokuskan untuk layanan jarak jauh, kereta komuter tidak berhenti di stasiun ini agar operasional perjalanan antarkota tetap berjalan optimal.
Dalam jaringan transportasi nasional, Stasiun Gambir berperan sebagai pusat utama jalur kereta antarkota di Pulau Jawa. Jalurnya terhubung langsung dengan rute perjalanan jarak jauh, sementara layanan komuter dipusatkan di stasiun lain seperti Stasiun Manggarai yang berfungsi sebagai pusat transit KRL.
Pemerintah juga merencanakan pengalihan sebagian layanan kereta jarak jauh ke Stasiun Manggarai secara bertahap. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat sistem transportasi perkotaan di Jakarta, sehingga fungsi masing-masing stasiun dapat berjalan lebih optimal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reddoorz