Wamenpar Ni Luh Puspa. (Dewi Kania/Z Creators)
INDOZONE.ID - Wamenpar Ni Luh Puspa menyampaikan bahwa industri kuliner Indonesia dan pelaku usaha bisa menjadi penggerak ekonomi. Dari situ, value bisa lebih ditingkatkan untuk mengenal lebih dalam tentang gastronomi Indonesia.
“Menurut kami ajang ini relate dengan program prioritas, salah satunya pariwisata berkualitas dengan wisata minat khusus yang bisa meningkatkan value of money, spending yang lebih banyak dan marine tourism, wellnes tourism dan gastrotourism. Kita ingin turis saat berwisata ke Indonesia untuk meraskaan gastronomi Indonesia,” ujar Ni Luh Puspa dalam acara Penganugerahan Grab Bintang 5 Awards di Kantor Kemenpar, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Ia senang ada banyak support yang telah diberikan, baik itu kunjungan wisatawan dan kuliner Indonesia. Banyak program yang telah berhasil dijalankan bersama Wonderful Indonesia.
Ni Luh juga menekankan bahwa kolaborasi ini menjadi penting dan semua pelaku usaha bisa naik kelas. Ia meminta agar masyarakat, pelaku usaha kuliner dan pariwisata, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat harus saling bersinergi.
Baca juga: Membaca Sejarah di Atas Piring: Mengapa Pariwisata Gastronomi Lebih dari Sekadar Manjain Lidah!
Dalam kesempatan ini, Ni Luh memberikan langsung penghargaan kepada para pelaku kategori Wonderful Indonesia Favorite Flavor. Mereka adalah Pisang Madu Bu Nanik, Risol Spesial Gogo, Pisang Goreng Madu Bu Nanik, dan Warung Bu Kris.
“Kami memberikan apresiasi kepada pelaku kuliner di pariwisata prioritas di 10 destinasi, seperti Raja Ampat, Mandalika, Labuan Bajo, Bromo Tengger Semeru, Yogyakarta, Wakatobi, Belitung, juga Danau Toba,” ucap Ni Luh Puspa.
Ia percaya bahwa setiap destinasi prioritas punya cerita dan kekayaan gastronomi. Dalam gastronomi makanan bukan hanya sebuah rasa, tapi mengajak wisatawan untuk mengajak wisatawan untuk mengenal makanan di satu daerah.
Sebut saja Coto Makassar dan Pallu Bassa di Makassar, kedua kuliner ini punya cerita dan sejarah di balik kelezatannya. Dengan begitu, kata Ni Luh, kuliner ini punya nilai jual dan membuat wisatawan semakin tertarik untuk mencicipinya.
“Saya harap pelaku kuliner bisa berinovasi dan berdaya saing serta jadi sarana meningkatkan gastronomi ke tingkat yang lebih tinggi,” bebernya.
Sebagai Star Chef yang hadir dalam acara, Pakar Kuliner William Wongso mengatakan, banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa kuliner Indonesia itu ragamnya nomor wahid di dunia. Jadi, jangan anggap remeh makanan lokal yang nikmatnya tak terkalahkan.
“Kita terbang dari Aceh ke Padang, lalu ke Toba beda lagi, dan gak usah dibantah dan kita perlu apresiasi terhadap keragaman budaya kita, kita menemukan rendang kering, creamy, dan lainnya,” kata pria yang akrab disapa Om Wil ini.
Hal inilah yang membuat ekonomi Indonesia tidak terpuruk. Bayangkan saat zaman Covid-19, kalau ibu-ibu tak jualan makanan online di rumah mungkin situasi beda, dan mereka bisa kirim makanan kemana sana, jadi tak usah ke restoran.
“Lalu 90 persen orang Indonesia sendiri maunya makanan Indonesia. Bakso enaknya ngalahin burger, dan generasi Instagram ini sebelum makan pasti foto dulu,” ucap Om Wil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan