INDOZONE.ID - Kerupuk Petulo menjadi salah satu kuliner khas Desa Ngabab yang telah bertahan sejak awal 1990-an. Usaha rumahan ini dirintis oleh keluarga Bu Supiani dan terus diwariskan secara turun-temurun. Hingga kini, kerupuk yang diproduksi dengan cara tradisional tersebut tetap diminati karena cita rasanya yang khas, proses pembuatannya yang autentik, serta penggunaan bahan baku lokal berkualitas.
Bahan utama Kerupuk Petulo terdiri dari singkong, tepung tapioka, garam, dan pewarna makanan. Sebagian besar singkong diperoleh langsung dari petani di Desa Ngabab sehingga kualitasnya lebih terjamin. Dalam kondisi tertentu, Bu Supiani juga memanfaatkan tepung singkong yang disuplai oleh pengepul desa untuk memenuhi kebutuhan produksi saat permintaan meningkat, tanpa mengurangi cita rasa asli.
Baca juga: Resep Kerupuk Puli dari Nasi Sisa, Camilan Renyah untuk Keluarga
Proses pembuatannya cukup panjang. Singkong yang telah dihaluskan atau diolah menjadi tepung dicampur dengan air panas, kemudian ditambahkan garam, tepung tapioka, dan pewarna makanan. Adonan diuleni hingga kalis sebelum dicetak menggunakan alat khusus yang menghasilkan bentuk panjang menyerupai mi. Selanjutnya, adonan dililit hingga berbentuk bulat seperti kerupuk pada umumnya.
Kerupuk yang sudah dibentuk kemudian dikukus selama kurang lebih 20 menit agar teksturnya lebih padat. Setelah itu, kerupuk dijemur di atas anyaman bambu selama dua hari penuh di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering dan siap digoreng.
Dalam sekali produksi, Bu Supiani mampu menghasilkan sekitar 700 hingga 1.000 kerupuk. Pemasaran dilakukan melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp, serta dijual langsung kepada pembeli dari dalam maupun luar Desa Ngabab. Produk ini juga tersedia di pasar melalui para pengecer.
Baca juga: Resep dan Cara Bikin Kerupuk Nasi Tanpa Digoreng, Mudah dan Murah!
Untuk pembelian langsung, pelanggan dapat datang ke rumah Bu Supiani di Dusun Dukuh Krajan, RT 21 RW 4. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, yaitu Rp50.000 per 100 biji kerupuk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan