Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 18 JULI 2026 • 12:33 WIB

Bukan Sekedar Transit, Ruteng Menyimpan Filosofi di Balik Sawah Laba-Labanya

Bukan Sekedar Transit, Ruteng Menyimpan Filosofi di Balik Sawah Laba-LabanyaRuteng, NTT. (Instagram/@ntt_feed)

INDOZONE.ID - Kebanyakan orang mengenal Ruteng hanya sebagai kota transit sebelum menuju Labuan Bajo, atau sekadar titik singgah untuk melihat sawah berbentuk jaring laba-laba dari kejauhan.

Padahal, di balik udara dingin dan kabut setiap sore, Ruteng menyimpan hal yang jarang dibahas, sebuah filosofi hidup di tanah pertaniannya.

Kota dalam Ketenangan dan Sawah yang Bukan Hanya Sekadar Objek Foto

Berbeda dari Labuan Bajo yang ramai wisatawan, Ruteng terasa seperti berjalan dalam ritme lebih pelan.

Baca juga: Pencinta Alam Wajib Tahu! Ini Pantai Puru Kambera, Hidden Gem di Timur Sumba

Pasar tradisionalnya buka pagi-pagi buta, kabut turun hampir setiap sore di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, dan suhu udaranya bisa terasa seperti pegunungan Eropa.

Sesuatu yang jarang orang kaitkan dengan Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah dengan ciri khas panas dan savana kering.

Ritme lambat ini juga terlihat dari kebiasaan masyarakatnya duduk berlama-lama di lopo atau warung kopi kecil, sekadar mengobrol tanpa terburu-buru.

Bagi wisatawan yang datang dari kota besar, suasana ini justru bisa terasa seperti terapi, sebuah pengingat bahwa perjalanan tidak selalu harus dipadatkan dengan checklist tempat wisata.

Lingko Cancar, sawah berbentuk jaring laba-laba raksasa di Kecamatan Ruteng, selama ini lebih dikenal sebagai spot foto dari ketinggian.

Padahal, bentuknya bukan kebetulan estetika, melainkan hasil dari sistem pembagian lahan tradisional masyarakat Manggarai yang disebut lingko.

Dalam sistem ini, sebidang tanah dibagi dari satu titik pusat bernama lodok ke arah luar secara radial, dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan tiap keluarga, bukan berdasarkan siapa yang paling berkuasa atau paling kaya di kampung.

Cara pembagian ini secara tidak langsung menjadi cerminan nilai keadilan, yang dipegang teguh masyarakat Manggarai sejak generasi ke generasi.

Setiap keluarga berhak atas tanah, dan pembagiannya dilakukan secara terbuka serta disepakati bersama, bukan diam-diam atau sepihak.

Jadi, ketika wisatawan memotret pola jaring laba-laba dari atas bukit, sebenarnya mereka sedang memotret bukti visual dari sebuah sistem sosial yang telah bertahan ratusan tahun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Indonesia Kaya, Travel And Leisure

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bukan Sekedar Transit, Ruteng Menyimpan Filosofi di Balik Sawah Laba-Labanya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!