Ilustrasi solo traveling. (Freepik)
INDOZONE.ID - Tren solo traveling di kalangan anak muda dan Gen Z belakangan ini makin masif banget. Berkelana sendirian ke kota atau negara asing emang menawarkan sensasi kebebasan hakiki yang bikin candu.
Akan tetapi, di balik keseruannya, dunia solo traveling gak pernah lepas dari berbagai mitos yang sering memicu perdebatan di forum-forum backpacker.
Anehnya, meski zaman udah serbadigital dan taktis, mitos-mitos ini masih kokoh dipercaya oleh banyak orang, terutama mereka yang baru mau memulai perjalanan pertamanya.
Yuk, kita demistifikasi 5 mitos solo traveling yang paling sering diperdebatkan beserta alasan psikologis di baliknya!
Baca juga: 4 Tren Wisata Terkini yang Lagi Diburu Traveler, dari Wellness Retreat hingga Solo Travel
Ilustrasi solo traveler. (Freepik/yanalya)
Banyak yang mengira kalau solo traveling itu adalah perjalanan sepi, di mana kamu bakal makan, jalan, dan ngomong sama diri sendiri dari hari pertama sampai pulang.
Secara harfiah, kata "solo" berarti sendiri. Otak kita secara otomatis mengasosiasikan hal tersebut dengan isolasi sosial. Selain itu, konten-konten estetik di media sosial sering kali mengekspos foto satu orang di tengah lanskap alam yang luas, memperkuat narasi kalau mereka bener-bener "terasing" tanpa interaksi.
Padahal faktanya, justru pas jalan-jalan sendirian kamu bakal jauh lebih mudah dapet kenalan baru di berbagai destinasi.
Mulai dari sesama traveler di shared-room hostel, obrolan santai sama warga lokal di warung kopi, sampai ikutan free walking tour. Kamu cuma sendiri pas lagi perpindahan transportasi aja, selebihnya? Ramai!
Baca juga: Mau Liburan Sendirian? Ini 10 Kota Terbaik untuk Solo Traveling di Dunia
Ilustrasi solo traveling. (Unsplash/Joshua Earle)
Jalan sendirian dicap bikin kantong jebol karena semua biaya akomodasi, sewa kendaraan, hingga makan gak bisa dibagi rata (split bill). Semua sebenernya bergantung pada logika matematika dasar.
Ketika hotel atau taksi online yang biasanya dibagi berempat harus ditanggung satu orang, pengeluaran terasa membengkak. Hal ini bikin para pemula jiper duluan sebelum menghitung bujet secara taktis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan