Rabu, 20 NOVEMBER 2024 • 18:20 WIB

Lebih dari Sekedar Tempat Ibadah, Masjid Cheng Hoo Jadi Ikon Toleransi

Author

Pengunjung berfoto di depan Masjid Laksamana Ceng Ho (Z Creators/Riki Ariyanto)

INDOZONE.ID - Sejak abad ke-5 Masehi, bangsa China telah mengenal Indonesia, yang kala itu dikenal sebagai Nan-hai atau Kepulauan Laut Selatan.

Migrasi mereka ke Nusantara membawa pengaruh besar, menciptakan interaksi budaya yang terus berkembang hingga saat ini.

Salah satu wujud nyata dari akulturasi budaya ini adalah arsitektur Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya, Jawa Timur, yang mengintegrasikan elemen khas Tionghoa dengan simbol-simbol Islam.

Masjid Muhammad Cheng Hoo menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Islam, yang mencerminkan toleransi dan keragaman budaya di Nusantara.

Dengan gaya arsitektur khas Tionghoa yang berpadu dengan elemen Islam, masjid ini menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan budaya dapat disatukan dalam harmoni.

Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 2002 di Surabaya oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur.

Baca Juga: Mengenal Masjid Menara Layur: Peninggalan Islam di Kota Semarang dengan Menara Unik

Inspirasi pembangunannya datang dari Masjid Niu Jie di Beijing, dengan tujuan untuk menghormati Laksamana Cheng Ho.

Dia adalah seorang pelaut dan diplomat Muslim dari Dinasti Ming yang turut menyebarkan Islam di Asia Tenggara.

Hingga kini, masjid serupa telah berdiri di berbagai kota di Indonesia, menandai jejak penting dalam sejarah hubungan Islam dan Tionghoa.

Masjid ini menjadi representasi harmoni antara dua budaya besar: Islam dan Tionghoa.

Arsitekturnya memadukan unsur-unsur khas Tionghoa, seperti atap berundak berwarna merah dan hijau serta ornamen naga, dengan elemen Islam seperti menara dan kubah.

Perpaduan ini menciptakan identitas unik yang mencerminkan dialog antarbudaya.

Arsitektur Unik dan Simbolik

Masjid Muhammad Cheng Hoo mengusung desain khas dengan atap berundak berwarna merah dan hijau, serta ornamen naga dan awan, yang mencerminkan budaya Tionghoa.

Namun, elemen Islam tetap dominan, seperti keberadaan menara dan kubah.

Ukuran bangunan utama yang berukuran 11x9 meter melambangkan Kakbah dan Wali Songo, tokoh penting dalam penyebaran Islam di Jawa.

Menurut Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho, masjid ini juga dilengkapi berbagai fasilitas seperti klinik akupunktur, taman kanak-kanak, dan lapangan olahraga.

Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini aktif dalam kegiatan sosial, seperti khitanan massal, santunan anak yatim, dan lomba MTQ nasional, yang melibatkan umat Muslim dari berbagai latar belakang.

Simbol Toleransi dan Keberagaman

Keberadaan Masjid Muhammad Cheng Hoo tidak hanya memperkaya lanskap arsitektur Islam, tetapi juga menjadi simbol toleransi beragama.

Sebagai tempat yang memadukan dua budaya besar, masjid ini menunjukkan bagaimana Islam dan tradisi Tionghoa dapat hidup berdampingan secara damai.

"Masjid ini adalah simbol keberagaman dan persatuan, bahwa budaya Tionghoa dan Islam dapat menyatu tanpa kehilangan identitas masing-masing," ujar salah satu pengurus Yayasan Cheng Hoo.

Dengan arsitektur yang ikonik dan program-program yang inklusif, Masjid Muhammad Cheng Hoo telah menjadi ikon toleransi budaya, menarik perhatian tidak hanya masyarakat lokal tetapi juga mancanegara.

Masjid Cheng Hoo sebagai Warisan Budaya

Keberadaan Masjid Cheng Hoo memberikan pelajaran penting tentang harmoni budaya.

Akulturasi Tionghoa dan Islam dalam arsitekturnya mencerminkan kekayaan budaya Indonesia yang toleran dan inklusif.

Baca Juga: Masjid Pintu Seribu: Ikon Religi dan Wisata Unik di Kota Tangerang

Masjid ini telah menjadi ikon tidak hanya bagi komunitas Tionghoa Muslim, tetapi juga bagi masyarakat umum yang menghargai keragaman.

Sebagai simbol toleransi dan persatuan, Masjid Cheng Hoo tidak hanya memperkaya arsitektur Islam di Nusantara tetapi juga menjadi warisan budaya yang perlu dijaga.

Dengan tetap menghormati akar budaya leluhur, masjid ini mengajarkan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis di tengah keberagaman budaya dan keyakinan.

Masjid Cheng Hoo bukan hanya sebuah bangunan, tetapi juga simbol integrasi budaya yang kuat.

Ia menggambarkan bagaimana nilai-nilai Islam dan tradisi Tionghoa dapat bersanding secara damai, menciptakan warisan budaya yang memperkaya identitas nasional Indonesia.

Melalui masjid ini, kita diajak untuk terus menjaga nilai-nilai toleransi dan kerukunan demi Indonesia yang semakin harmonis dan multikultural.

Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Kajian Keislaman Dan Kemasyarakatan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU