INDOZONE.ID - Ada salah satu kegiatan menarik yang bisa dilakukan di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu mengunjungi festival Bau Nyale yang hanya ada setahun sekali.
Festival Bau Nyale memberi pengalaman dan pesona tersendiri bagi wisatawan. Selain menyaksikan kegiatan yang dilakukan masyarakat lokal, wisatawan juga bisa turut berpartisipasi dalam perhelatan ini.
Lantas, apa itu perayaan Bau Nyale?
Bau Nyale berasal dari Suku Sasak di Lombok Selatan, sebuah perayaan yang berasal dari legenda Putri Mandalika.
"Bau" dalam bahasa setempat berarti menangkap, sementara "Nyale" adalah sejenis cacing laut berwarna-warni yang muncul setahun sekali di beberapa lokasi tertentu di pantai Lombok.
Masyarakat setempat mempercayai tradisi Nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan keburukan bagi orang yang meremehkannya.
Upacara Bau Nyale dilakukan pada tanggal 20 bulan ke-10 dan awal tahun Sasak.
Waktu dari tahun Sasak itu ditandai dengan terbitnya bintang Rowot yang dikaitkan dengan pertanian.
Menurut perhitungan suku Sasak, pada bulan ke-1 dimulai pada tanggal 25 Mei dan setiap bulan dihitung 30 hari.
Di tengah perubahan zaman dan kemajuan teknologi di era digital serta pesatnya pembangunan di Lombok Tengah, animo warga atau generasi milenial untuk melestarikan budaya itu masih terlihat cukup banyak yang datang untuk melihat dan menangkap cacing laut.
Pemerintah menggelar berbagai hiburan di malam puncak, baik untuk mendatangkan artis nasional dan menggelar ritual, sebelum ribuan orang turun ke laut untuk menangkap cacing, sebelum matahari terbit.
Kegiatan tersebut diharapkan bisa menarik masyarakat milenial yang merupakan generasi penerus bangsa untuk bisa melestarikan budaya Sasak.
Selain itu, diharapkan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan, sehingga pemerintah melaksanakan berbagai ajang, sebelum puncak Bau Nyale.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah Lalu Sungkul menganggap tradisi Bau Nyale merupakan tradisi yang selalu ramai dihadiri masyarakat di Lombok, bahkan dari luar.
Tanpa kehadiran artis pun, acara yang digelar rutin tiap tahun itu tetap ramai dan meriah.
Tapi, jika dibandingkan dengan tahun Masehi, bulan ke-10 jatuh pada sekitar bulan Februari.
Untuk mengenal lebih jauh tentang festival Bau Nyale, di bawah ini berikut penjelasannya yang dikutip dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Baca Juga: Menikmati Keindahan Pantai Tanjung Aan di Lombok NTB yang Wajib Dikunjungi
Sejarah Festival Bau Nyale
Dilansir dari buku 70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia (2019) oleh Fitri Haryani Nasution, dahulu terdapat sebuah kerajaan Seger yang dipimpin oleh raja yang arif dan bijaksana bersama dengan permaisurinya.
Mereka memiliki seorang putri yang cantik jelita. Semasa kecilnya, Sang Putri dijuluki "Tojang Beru" (baru muncul).
Ketika menginjak dewasa, kecantikan Sang Putri begitu mempesona.
Namanya pun diubah menjadi Putri Mandalika, yaitu Putri yang memiliki cahaya kejelitaan.
Kecantikannya memikat hati banyak pangeran. Para pangeran itu kemudian melamarnya, namun semuanya ditolak.
Putri Mandalika khawatir jika menerima salah satu lamaran, maka akan menimbulkan persaingan tidak sehat di antara para pangeran dan berakibat peperangan.
Makna Legenda Bau Nyale di Mandalika
Festival Budaya Bau Nyale dilakukan masyarakat lokal dengan berkumpul di Pantai Seger pada sore hari, dan dilanjutkan dengan mengadakan peresean (berkemah) hingga tengah malam.
Proses menangkap nyale atau cacing laut dilakukan pada dini hari hingga terbit fajar.
Nantinya, nyale-nyale yang berhasil ditangkap akan dimasak dan disantap langsung oleh masyarakat lokal.
Menurut kepercayaan, cara ini dilakukan sebagai bentuk cinta kasih kepada Putri Mandalika.
Namun, ada dua orang pangeran sangat bersikeras ingin melamarnya. Mereka mengancam akan menghancurkan kerajaan jika Putri Mandalika tidak menerima lamarannya tersebut.
Putri Mandalika pun menjadi gundah dan memohon petunjuk pada Maha Kuasa.
Setelah mendapat petunjuk melalui mimpi, Sang Putri akhirnya memutuskan untuk menceburkan diri ke laut.
Sebelum terjun ke laut, Putri Mandalika berseru:
"Wahai ayahanda dan Ibunda serta semua pangeran rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kalian semua. Aku tidak dapat memilih satu di antara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya nyale di permukaan laut".
Putri Mandalika menceburkan diri ke laut pada tanggal 20 bulan ke-10 tahun Sasak.
Sesaat setelah Sang Putri menceburkan diri, muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak, yang kini disebut sebagai nyale.
Binatang itu berbentuk cacing laut. Mereka menduga bahwa binatang itu adalah jelmaan dari Sang Putri.
Lalu beramai-ramai mereka berlomba-lomba mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih.
Dalam Festival Bau Nyale juga diisi dengan berbagai kesenian tradisional, seperti betandak (berbalas pantun), bejambik (pemberian cinderamata kepada kekasih), dan dilanjutkan dengan belancaran (pesiar dengan perahu).
Tak hanya dengan menggelar Festival Bau Nyale, untuk menghormati pengorbanan sang putri, di kawasan Mandalika juga dibangun patung yang menggambarkan Putri Mandalika.
Baca Juga: Museum Negeri NTB, Peninggalan Sejarah dari 3 Suku Besar di NTB
Penentuan Waktu Penyelenggaran Festival Bau Nyale
Waktu Bau Nyale tidak pernah sama meskipun dilaksanakan setiap tahun untuk melestarikan tradisi budaya Sasak tersebut.
Sehingga puncak Bau Nyale diputuskan melalui Sangkep Warige yang dihadiri oleh para tokoh dari delapan penjuru mata angin atau tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat.
Waktu Bau Nyale di Pantai Seger tahun ini diputuskan digelar pada 29 Februari hingga 1 Maret 2024 berdasarkan hasil Sangkep Warige.
Sebelum Sangkep Warige diputuskan, telah dilakukan sidang kecil untuk menghimpun pendapatan para tokoh.
Kemudian baru dilakukan Sangkep Warige untuk mengambil keputusan penentuan puncak Bau Nyale berdasarkan hati nurani untuk kebersamaan masyarakat Sasak, sehingga Nyale bisa muncul ke permukaan dan bisa ditangkap masyarakat.
Hasil Sangkep Warige itu menjadi dasar pemerintah daerah melanjutkan kegiatan penyambutan Bau Nyale.
Penulis: Hilwah Nur Puspitawati
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif