Sudah bukan hal baru lagi bahwa Jogja atau Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata paling digemari di Indonesia.
Saking digemarinya, tidak jarang orang yang sudah pernah ke Jogja mengungkapkan perasaan kangen dan ingin berkunjung lagi.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata Jogja yang katanya "adem ayem" dan "ngangenin" itu mulai terancam dengan keberadaan aksi klithih atau klitih. Para pelaku klithih ini tak segan-segan melukai korban dengan senjata tajam.
Yang bikin tambah meresahkan, para pelaku klithih ini mengincar korban secara acak. Bahkan tidak jarang, mereka melukai korban tanpa alasan apapun, kecuali sekadar unjuk gigi.
Kasus klitih teranyar terjadi pada Senin dini hari, 27 Desember 2021 di Jalan Kaliurang, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.
Dua remaja bersimbah darah dibacok sekelompok remaja lain. Senjata yang digunakan pelaku antara lain celurit, pecahan botol, dan gergaji modifikasi. Dua remaja berumur enam belas tahun itu terkapar dengan sejumlah luka, demikian mengutip laporan VOA Indonesia.
Kepala Kepolisian Resor Sleman AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono mengatakan, antara pelaku dan korban tidak saling kenal.
“Untuk modus pelaku sendiri, berawal dari konvoi, lalu ketemu di jalan. Motifnya, karena kolompok ini emosi bertemu, dengan korban,” papar Wachyu, Rabu (29/12/2021) dalam keterangan resmi kepada media di Sleman.
Menurut data di Polda DIY, pada tahun 2021, jumlah kejahatan jalanan meningkat menjadi 58 kasus dengan 102 pelaku ditangkap. Dari jumlah itu, 80 pelaku merupakan pelajar dan sisanya pengangguran. Jika dirata-ratakan, setiap satu minggu satu kejahatan jalanan terjadi di kota yang dipromiskan sebagai daerah adem-ayem sebagai tujuan wisata itu.
Apa Kata Sri Sultan?
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengakui, klithih di wilayahnya mengganggu sektor pariwisata.
Dalam dua pernyataan berbeda pada Kamis (30/12) dan Jumat (31/12), Sultan mengaku geram terhadap kasus yang menyerupai begal ini. Namun di sisi lain, dia meminta seluruh pihak untuk tidak membesar-besarkan masalah ini.
“Toh, yang melakukan sudah ditangkap, ya sudah selesai persoalannya,” kata Sultan, Jumat (31/12/2021), seperti dilansir Antara.
Sultan yang hari itu bertemu dengan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa selama tiga jam, merasa tidak perlu ada "kekuatan lain" di Jogja untuk mengatasi klithih ini.
“Sebetulnya kita punya kesempatan yang sama untuk berkoordinasi. Semoga saja di tahun depan kondisinya bisa jauh lebih baik. Di Jogja ini ya memang adem ayem tentrem, tidak perlulah ada kekuatan-kekuatan lain seperti api dalam sekam,” kata sang raja Keraton Yogyakarta itu.
Lebih jauh, Sultan merasa bahwa masalah "klithih" itu sengaja dirancang oleh oknum tertentu supaya Jogja dianggap tidak aman lagi.
"Mungkin teman-teman tidak merasa kalau itu by design misalnya, jadi supaya klitih ini diperpanjang terus menjadi sesuatu yang akhirnya dinyatakan Yogya tidak aman dan nyaman," ujarnya.
PR Berat Semua Elemen
Wakil Kepala Kepolisian Daerah DIY, Brigjen R Slamet Santoso mengakui mereka tidak bisa mengatasi persoalan klithih ini sendiri.
“Supaya bisa menangani ini secara komprehensif, tidak hanya dari kepolisian saja, tetapi juga guru-guru ikut bertanggung jawab, termasuk pada orang tua,” kata Slamet saat konferensi pers akhir tahun Polda DIY 2021, Rabu (29/12/2021).
Polisi juga meminta lampu penerangan jalan diperbanyak, meminta orang tua untuk tidak membelikan sepeda motor kepada anak di bawah 17 tahun.
“Dari data para pelaku-pelaku itu, kita sudah memiliki data, dimana dia sekolah dan alamat rumahnya. Kita kasih pembinaan dan penyuluhan juga kepada para orang tua,” tambah Slamet.
Polisi juga mengaitkan kasus-kasus ini dengan penyalahgunaan narkoba. Dalam mayoritas kasus, narkoba atau minuman keras turut berperan meningkatkan kenekatan pelaku.
Kelompok yang ditangkap sebelum penghujung tahun 2021, diketahui mengonsumsi minuman keras sebelum beraksi, dan salah satunya menelan obat terlarang jenis benzo alprazolam.
Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa. Menurut dia, perlu ada forum bersama yang khusus menangani permasalahan klithih ini.
"Tidak hanya para pemangku kepentingan yang terlibat, pihak keamanan TNI-Polri, pendidikan sekolah dan peran serta orang tua agar supaya mengawasi anak-anak tetap harus dilakukan," katanya.
Danang mengakui, "klithih" ini sudah cukup lama terjadi di DIY, tak terkecuali di Kabupaten Sleman yang banyak melibatkan anak-anak dan remaja usia sekolah SMP dan SMA.
"Kembali maraknya aksi 'klithih' ini sangat meresahkan masyarakat di Sleman, dan DIY pada umumnya akhir-akhir ini. Tentunya kita sangat prihatin, anak-anak seusia belasan mempunyai keberanian untuk menyakiti sesamanya, bahkan sampai ada korban yang tewas," katanya.
Lebih jauh Danang mengaku banyak mendengar bahwa sebenarnya banyak orangtua yang mengetahui anaknya keluar rumah pada malam hari, bahkan tahu bahwa saat pergi anaknya membawa sepeda motor dan ada yang membawa senjata tajam.
"Tetapi kenyataannya banyak orangtua yang tidak mampu mencegah, karena mereka juga takut diancam oleh anaknya dan khawatir justru menjadi korban kekerasan dari anaknya sendiri. Dengan kondisi seperti ini maka sangat dibutuhkan adanya forum bersama untuk penanganan 'klithih'," katanya.
Artikel Menarik Lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: