Kamis, 27 FEBRUARI 2025 • 15:05 WIB

Susu Kecoak Disebut 3 Kali Lebih Bergizi dari Susu Sapi, Siap Jadi Tren Superfood Terbaru?

Author

susu kecoak

INDOZONE.ID - Mengonsumsi susu kecoak mungkin tak pernah terpikirkan di benak banyak orang. Tetapi, penelitian mengungkapkan bahwa susu kecoak ini termasuk susu bergizi yang mengandung kalori 3 kali lipat dibandingkan susu sapi.

Kecoak adalah sejenis serangga yang kerap dihindari karena dianggap menjijikan dan kotor. Namun siapa sangka, kecoak bisa dimanfaatkan untuk diambil susunya.

Berbeda dengan susu sapi yang dihasilkan dari sapi betina, susu kecoak ini justru diambil dari cairan kuning yang mengkristal di dalam perut kecoak.

Susu kecoak ini mengandung zat kaya akan protein, asam amino, dan gula sehat yang semuanya penting bagi fungsi tubuh, seperti perbaikan dan pertumbuhan sel.

Baca Juga: Resep Acar Timun Wortel Bumbu Kuning yang Lezat dan Mudah Dibuat, Wajib Coba!

Dilansir Free Press Journal pada tahun 2016, para peneliti justru mempelajari zat yang diproduksi oleh kecoak kumbang Pasifik betina untuk memberi makan anak-anaknya.

Menurut National Institutes of Health, studi ini menunjukkan bahwa susu kecoak memiliki kandungan energi yang jauh lebih tinggi daripada susu tradisional, sehingga menjadikannya makanan super yang potensial.

Pihaknya melanjutkan jika struktur protein susu kecoak yang unik ini memungkinkan pelepasan nutrisi secara stabil, sehingga sangat efisien untuk pertumbuhan dan perkembangan.

Meskipun belum tersedia untuk dikonsumsi di Indonesia, namun susu kecoak ini dapat menjadi sumber makanan alternatif yang penting bagi kesehatan di masa depan.

Mengapa belum tersedia? Karena memiliki kendala besar yaitu produksi. Seperti diketahui, kecoak hanya menghasilkan sedikit cairan, sehingga ekstraksi komersial hampir mustahil.

Tidak seperti sapi atau kambing, serangga ini tidak dapat "diperah" dalam pengertian tradisional.

Namun perlu diingat bahwa untuk memproduksi 3,5 ons susu jenis ini membutuhkan lebih dari 1.000 kecoak.

Rupanya, untuk memanen zat kristal seperti susu dari spesies kecoak Diploptera punctata, para ilmuwan perlu membunuh kecoak betina dan embrio mereka.

Jika ribuan kecoak perlu dibunuh hanya untuk menghasilkan 100 gram susu, maka jumlah kecoak yang diperlukan untuk produksi massal akan lebih dari sepuluh kali lipat.

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa rekayasa genetika dapat menjadi solusi yang memungkinkan.

Caranya dengan mentransfer gen penghasil susu kecoak dalam kultur ragi, sehingga memungkinkan produksi skala besar.

Namun, tidak ada penelitian konklusif yang membuktikan bahwa susu kecoak aman untuk dikonsumsi manusia.

Baca Juga: Resep Nastar Keju Gurih dan Wangi, Cocok untuk Lebaran

Diprediksi Jadi Superfood di Masa Depan

Melansir Medical Daily, susu kecoak ini juga salah satu jenis minuman superfood yang populer belakangan ini di publik.

Istilah superfood sering digunakan oleh perusahaan pemasaran dan perusahaan, untuk mempromosikan produk makanan atau minuman, yang disebutkan mengandung banyak nutrisi dan memberikan segudang manfaat bagi kesehatan.

Potensi Konsumsi Susu Kecoak di Masa Depan

Meningkatnya permintaan akan alternatif makanan bebas susu, dan berkelanjutan membuat susu kecoak tetap menjadi bahan perbincangan. Namun, kelayakan komersialnya masih belum pasti.

Menurut Barbara Stay, PhD, Profesor Emerita di University of Iowa, susu kecoak ini masih rencana belum ada progres kedepannya, dan belum tentu ada yang mengonsumsinya dalam waktu dekat.

"Saya rasa tidak mungkin ada orang yang akan meminumnya dalam waktu dekat. Saya tidak tahu berapa biaya yang diperlukan untuk membuat dan kemudian memproduksinya dalam jumlah berapa pun," papar Barbara Stay, dikutip dari Free Press Journal, Kamis (27/2/2025).

Meskipun idenya mungkin tampak tidak masuk akal, potensi manfaat gizi dari susu kecoak terus menarik minat para peneliti, apakah susu kecoak akan masuk ke pasar makanan umum atau tidak masih harus dilihat.

 

Penulis: Hilwah Nur Puspitawati

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical Daily, National Institutes Of Health (NIH), Free Press Journal

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU