Selasa, 26 NOVEMBER 2024 • 15:40 WIB

Menelusuri jejak Ramen, dari Mie Tarik China hingga Jadi Kuliner Ikonik Jepang

Author

Ramen. (Pinterest)

INDOZONE.ID - Pada tahun 1697, Tokugawa Mitsukuni menjadi orang Jepang pertama yang memakan Mie China.

Saat itu, seorang sarjana Konfusianisme asal China mentraktir Mitsukuni dengan sup soba dari negaranya sendiri.

Namun, Mie China tidak begitu populer di kalangan masyarakat awam.

Dengan dibukanya pelabuhan pada tahun 1859, banyak orang dari negara lain berimigrasi ke Jepang, menyebabkan budaya makanan asing masuk ke Jepang.

Pada tahun 1880, imigran Tiongkok mulai bekerja sebagai juru masak di restoran yang melayani orang asing di pelabuhan Yokohama yang ramai.

Awalnya imigran China menyajikan mie dan beberapa hidangan utama kepada pekerja dan pelajar lain di negara asal mereka.

Pada tahun 1910, restoran Jepang mempekerjakan koki China untuk mengubah hidangan mereka menjadi hidangan lezat.

Hal ini termasuk menggunakan bahan-bahan yang sebelumnya tidak digunakan dalam kuah mie versi Tiongkok, seperti daging babi goreng, kecap, dan acar rebung.

Baca Juga: Sejarah di Balik Populernya Ramen, Ternyata Dianggap Makanan Murah di Jepang

Akhirnya, para pekerja, pelajar, pekerja shift malam, dan tentara, mulai mengonsumsi makanan tersebut secara teratur.

Asal kata ramen berasal dari "La Mian'' yang artinya "mie tarik'", karena mie ini dibuat dengan cara menarik tepung seperti tali.

Mie tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kuah yang merupakan campuran berbagai macam bumbu. Ramen ini biasanya dimakan dengan kuah.

Meskipun jenis ramen sama banyaknya dengan jumlah koki ramen, bahan dasarnya adalah mie, kaldu, dan saus bumbu.

Mie (men) terbuat dari tepung terigu, garam, air, dan baking powder (kansuri), yang memberikan warna kekuningan pada mie, tekstur licin, dan bau yang khas, serta meningkatkan kekenyalannya.

Secara umum di bagian selatan dan barat jepang, kansui yang digunakan untuk mie menjadi lebih sedikit.

Mie dengan kandungan kansui yang tinggi, resepnya mengandung 30 hingga 40 persen natrium bikarbonat sebagai air, paling sering disajikan di Jepang bagian utara.

Kaldu sup (shire), dibuat dengan merebus beberapa kombinasi daging, makanan laut, dan sayuran.

Daging yang digunakan biasanya ayam atau babi, terutama bagian kaki, punggung, iga, dan terkadang kepala.

Restoran ramen di Kyushu terkenal menggunakan tulang babi dalam jumlah besar.

Saat ini, restoran ramen tradisional tidak menggunakan daging babi dalam supnya.

Bahan makanan lautnya adalah kerang, ikan kering, biasanya sarden atau bonito, dan wakame kering (kelp).

Komponen sayuran yang standar digunakan dalam kaldu adalah bawang bombai, daun bawang, jahe, dan bawang putih.

Bahan terakhirnya adalah saus kental, yang biasanya tersedia dalam tiga rasa, yaitu shio (garam), miso (pasta kedelai), dan kecap asin, yang merupakan bahan dasar sup.

Secara umum bahan makanan Jepang antara lain nasi, hasil pertanian seperti sayur mayur dan kacang-kacangan, serta makanan laut.

Makanan Jepang biasanya rendah lemak dan tinggi garam. Masakan Jepang juga tidak mengolah bahan secara berlebihan.

Baca Juga: Rabokki, Kombinasi Ramen dan Dukboki yang Cocok untuk Teman Nonton Drakor

Hidangan harus menonjolkan rasa alami dari bahan-bahannya.

Selain itu, masakan Jepang tidak menggunakan bumbu yang pedas, sehingga bahan utama masakan Jepang adalah gula (sato), garam (shio), cuka (su), kecap (soy kecap), dan miso (kedelai fermentasi).

Pada tahun 1910, sebuah restoran Jepang mempekerjakan seorang juru masak dari China untuk mengubah hidangan tersebut menjadi hidangan lezat yang menggunakan bahan-bahan yang sebelumnya tidak digunakan dalam kuah mie versi Tiongkok.

Tergantung pada mie yang disajikan, terciptalah mie ala Jepang atau ramen Jepang.

Salah satu perbedaannya adalah mie China yang biasa disebut mie zhonghua menggunakan bahan-bahan utama yang memang diperuntukkan bagi konsumsi.

Oleh karena itu, mie China selalu diberi nama sesuai bahannya, seperti Wu Xian Niu Rou yang artinya mie daging sapi goreng.

Bahan utama masakan ini adalah daging sapi dan mie.

Sebaliknya, ramen ala Jepang lebih menekankan pada kuah kaldunya.

Oleh karena itu, nama kuahnya selalu digunakan pada nama ramen ala Jepang, seperti miso ramen.

Hal ini karena ada ungkapan dalam budaya makanan Jepang yang mengatakan, "Makan dengan matamu".

Ramen khas Jepang atau ala Jepang disajikan dengan berbagai topping sehingga membuat ramen tersebut terlihat cantik dan menarik.

Banner Z Creators Undip.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Universitas Darma Persada

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU