Minggu, 08 SEPTEMBER 2024 • 19:20 WIB

Mengapa Para Ahli Gizi Mengkhawatirkan Tren Video Mukbang? Ini Bahayanya

Author

Konten mukbang Tzuyang, influence dari Korea Selatan. (Instagram/tzuyang70)

INDOZONE.ID - Video mukbang—di mana seorang pembuat konten menyantap makanan dalam jumlah besar di depan kamera—telah menjadi tren besar di media sosial.

Mukbang, sebuah istilah yang berasal dari Korea Selatan, menggabungkan kata untuk "makan" dan "siaran," menyajikan gambar yang sangat menggiurkan: meja yang dipenuhi makanan goreng, lobster besar, atau sewadah penuh ramen.

Meskipun video ini menawarkan hiburan visual, para ahli kesehatan memperingatkan bahwa menonton mukbang secara rutin dapat mempengaruhi cara seseorang memandang makanan, terutama bagi mereka yang sudah memiliki masalah makan atau hubungan tidak sehat dengan diet.

Asal-usul dan Penyebaran Mukbang

Mukbang bukanlah fenomena baru. Genre ini mulai dikenal di Korea Selatan pada awal 2010-an.

Meski asal-usulnya tidak sepenuhnya jelas, beberapa pendapat mengungkapkan bahwa mukbang lahir sebagai bentuk evolusi dari kebiasaan makan bersama di Asia Tenggara.

Kini, mukbang telah meluas ke berbagai negara seperti Jerman, Brazil, dan Amerika Selatan, dan menyajikan konten yang sangat beragam.

Baca Juga: Hidangan Seafood di Medan, Kuliner Khas yang Dinikmati dengan Cara Mukbang

Video mukbang sering menampilkan berbagai jenis makanan, dari sushi dan pasta, hingga makanan cepat saji.

Beberapa video menonjolkan teknik memasak yang unik atau penggunaan bahan yang berlebihan, sementara yang lainnya menambahkan elemen ASMR untuk memperkaya pengalaman menonton.

Dampak Mukbang terhadap Gangguan Makan

Menikmati makanan dan menonton orang makan mungkin tampak biasa saja. Hanya saja, menurut para ahli diet, mukbang bisa mengubah pandangan seseorang tentang makanan dan mempengaruhi kebiasaan makan mereka.

Shelby Becker, RD, seorang ahli diet dengan spesialisasi dalam gangguan makan, menjelaskan bahwa video mukbang sering memberikan gambaran yang tidak realistis tentang konsumsi makanan yang berlebihan.

"Video Mukbang menyediakan klip audiovisual kepada pemirsa tentang orang-orang yang mengonsumsi makanan dalam jumlah yang biasanya sangat banyak," kata Becker.

“Normalisasi perilaku ini dapat mempengaruhi orang-orang dengan gangguan makan atau pola makan yang tidak teratur, karena dapat dilihat sebagai bentuk konsumsi yang dapat diterima," sambungnya.

Becker juga mencatat bahwa pembawa acara mukbang dengan tubuh ideal, dapat membuat mereka yang mengalami kenaikan berat badan merasa bingung dan malu.

Video mukbang jarang menampilkan konsekuensi negatif dari makan berlebihan, seperti rasa sakit atau mual, yang dapat memicu pola makan emosional atau berlebihan.

Potensi Masalah dari Menonton Mukbang

Konten mukbang Tzuyang, influence dari Korea Selatan. (Instagram/tzuyang70)

Bagi mereka yang tidak memiliki gangguan makan, menonton mukbang masih bisa mempengaruhi persepsi tentang porsi makanan dan kebiasaan makan.

Caroline Thomason, RD, CDCES, yang juga seorang ahli diet, menyatakan bahwa menonton video mukbang terlalu sering dapat merusak pemahaman tentang porsi makanan yang sehat, dan meningkatkan risiko pola makan yang tidak sehat.

"Beberapa orang menggunakan video ini sebagai cara untuk menirukan pengalaman makan tanpa mengonsumsi makanan apa pun," ujar Thomason.

Selain itu, banyak pembuat mukbang mungkin memuntahkan sebagian makanan yang mereka konsumsi, yang merupakan perilaku tidak sehat.

Ini bisa menyesatkan penonton tentang jumlah makanan yang benar-benar dimakan dalam sekali duduk.

Apakah Mukbang Memiliki Manfaat?

Penelitian mengenai dampak jangka panjang mukbang terhadap kesehatan mental dan pola makan masih terbatas.

Sebuah studi tahun 2020 dalam Culture, Medicine, and Psychiatry, menemukan fakta bahwa meskipun mukbang sering memicu kebiasaan makan yang tidak sehat, beberapa orang merasa video ini membantu mereka mengurangi rasa kesepian atau mencegah makan berlebihan.

Baca Juga: Kisah Food Vlogger Tzuyang: Bikin Konten Mukbang Karena Gak Mampu Beli Makanan, Kini Punya Cuan Segudang

Namun, menonton mukbang tidak seharusnya dijadikan solusi untuk mengatasi gangguan makan atau perasaan terisolasi.

Thomason merekomendasikan bahwa meskipun video ini mungkin memberikan hiburan sementara, pemulihan dari gangguan makan memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, seperti berhubungan dengan ahli gizi, terapis, dan membangun sistem dukungan yang solid.

Dengan demikian, video mukbang, walaupun menarik dan menghibur, memiliki potensi dampak negatif terhadap pola makan dan kesehatan mental.

Penting untuk menyadari bahwa porsi makanan yang ditampilkan dalam video ini tidak mencerminkan kebiasaan makan yang sehat dan bisa memperburuk masalah makan.

Bagi mereka yang menghadapi gangguan makan atau hubungan tidak sehat dengan makanan, mencari dukungan profesional dan strategi yang lebih baik adalah langkah penting untuk kesejahteraan.

Banner Z Creators.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Health

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU