INDOZONE.ID - Dulu, mungkin tak banyak yang membayangkan bahwa industri travel dan crypto bisa berjalan beriringan. Travel identik dengan tiket pesawat dan hotel, sedangkan crypto lebih melekat dengan dunia finansial dan teknologi.
Namun kini, batas itu mulai menipis. Kolaborasi lintas industri pun memperlihatkan arah baru, crypto bukan hanya soal investasi, tapi juga bagian dari gaya hidup dan perjalanan.
Pertumbuhan crypto dalam negeri memang terus menunjukkan tren positif. Mengutip data OJK per Oktober 2025, nilai transaksi crypto bulanan naik 27,64% dan mencapai Rp49,28 triliun.
Jumlah investornya pun bertambah stabil hingga menyentuh 18,61 juta investor per September di tahun yang sama. Angka ini membuktikan bahwa crypto semakin diterima publik, tidak lagi sebatas instrumen spekulasi, tetapi juga aset digital dengan ekosistem yang berkembang luas.
Baca juga: Klook Travel Fest 2025 Hadir Perdana di Indonesia, Angkat Tren Liburan ke Luar Negeri
Lantas, apa hubungannya dengan industri travel? Di ranah global, konsep crypto tourism mulai dikenal sejak 2017, menurut Investopedia.
Istilah ini merujuk pada pengalaman wisata ke destinasi yang ramah terhadap aset digital dan teknologi blockchain, mulai dari pembayaran hotel dengan crypto, tur edukasi blockchain, hingga event dan konferensi crypto internasional.
Tren ini memperlihatkan bagaimana dunia perjalanan kini ikut terdampak oleh inovasi finansial digital, menciptakan ceruk wisata baru yang memadukan eksplorasi tempat dengan ekosistem blockchain.
People Experience & Communication Senior Manager tiket.com Tio Manik menegaskan bahwa crypto bersifat inklusif dan bisa menembus berbagai industri. Crypto sifatnya universal dan bisa masuk ke berbagai lintas industri tak terkecuali industri travel.
“Fokus kami sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) adalah mengambil tanggung jawab untuk memperluas edukasi ke seluruh masyarakat Indonesia dengan berbagai latar belakang industri mengenai aset crypto dan teknologi blockchain, baik itu manfaatnya serta risiko-risiko yang ada,” katanya di Jakarta.
Bisakah Pesan Tiket Pakai Aset Digital?
CMO PINTU Timothius Martin sangat senang karena bisa sharing dengan banyak karyawan di perusahaan. Kunjungan ini sangat spesial karena menjadi perusahaan pertama di luar industri keuangan yang kami sambangi untuk bersama-sama berdiskusi mengenai industri crypto.
“Kami mengapresiasi rekan-rekan tiket.com yang menyambut hangat kedatangan tim PINTU karena kami percaya kolaborasi yang dijalin ini dapat memperkuat pemahaman mengenai aset crypto,”ujarnya.
Untuk diketahui, kolaborasi PINTU dan tiket.com adalah sebuah jembatan antara dua dunia yang berbeda namun memiliki potensi sinergi besar. Ke depan, bukan tidak mungkin traveler memesan tiket pesawat pakai crypto, menyimpan loyalty point sebagai token, bahkan mengikuti tur bertema blockchain di berbagai negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan