Ilustrasi Thailand. (REUTERS/Jorge Silva)
INDOZONE.ID - Thailand dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer di Asia Tenggara. Namun, di balik keindahan alam dan keragaman budaya yang menarik, terdapat sisi gelap yang perlu diperhatikan.
Meskipun industri pariwisata Thailand terus berkembang pesat, namun dampak negatifnya juga semakin terasa.
Dari masalah lingkungan hingga eksploitasi budaya lokal, sisi gelap wisata di Thailand menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat setempat.
Dalam beberapa tahun terakhir, upaya untuk mengatasi masalah ini telah menjadi fokus utama dalam upaya menjaga keberlanjutan pariwisata di Thailand.
Berikut adalah sisi lain dari pariwisata di Thailand yang perlu kamu ketahui sebelum berkunjung dan berlibur ke sana, melansir dari Breaking Asia, Rabu (14/8/2024).
Baca Juga: Menjelajahi Lampang, Kota yang Menawan di Pinggiran Sungai di Utara Thailand
Wat Arun Thailand (travelgayasia.com)
Pariwisata seks di Thailand telah menjadi hal yang umum dan bahkan dianggap sebagai daya tarik utama bagi wisatawan internasional.
Situs web khusus telah didedikasikan untuk membantu para turis seks merencanakan perjalanan mereka ke Thailand.
Mereka mempromosikan negara ini sebagai tujuan nomor satu bagi para pencari kesenangan dengan menawarkan hampir semua jenis orientasi seksual yang menarik minat.
Video YouTube dari bar go-go, kabaret, dan tempat hiburan lainnya di Thailand juga memamerkan tubuh-tubuh seksi, serta dokumentasi amatir dari para turis seks.
Baca Juga: Banyak WNI Ditolak Masuk Thailand, Simak Imbauan KBRI Biar Lolos Imigrasi
Turis yang berjalan di jalan setapak di atas kota Cina, Bangkok, Thailand (Unsplash/grapestock).
Di balik industri pariwisata seks dewasa, terdapat fenomena yang lebih gelap, yaitu pariwisata seks di bawah umur. Anak-anak dari keluarga miskin sering kali menjadi korban dari perdagangan ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Breaking Asia