Istana Pagaruyung, Sumatera Barat. (Z Creators/Rivo Wijaya)
Mungkin sebagian orang sudah mengetahui destinasi wisata budaya Istana Pagaruyung. Pagaruyung merupakan salah satu ikonnya Sumbar sekaligus merupakan pemukiman awal dari masyarakat Minangkabau.
Dari dulu hingga kini, Istana Pagaruyung selalu menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Mereka datang untuk melihat langsung keindahan dan juga barang-barang peninggalan khas budaya Minangkabau.
Para pengunjung yang datang ke Istana Pagaruyung juga bisa menikmati dan merasakan sensasi berfoto menggunakan baju adat Minangkabau dengan cara menyewa, seolah-olah membuat kita menjadi raja dan ratu. Namun, di balik itu semua kamu tahu enggak sih bahwa Pagaruyung ini sebetulnya memiliki sejarah yang panjang.
Diketahui, Istano Basa Pagaruyung merupakan jejak Kejayaan Konfederasi "Luhak Nan Tigo" dan ini merupakan pemukiman awal dari masyarakat Minangkabau atau disebut pula wilayah darek (daratan).
Sementara untuk letak Istana Pagaruyung ini sendiri yakni di nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanah Tanjung Emas, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar.
Pada masa lalu, di wilayah ini berdiri sebuah pemerintahan konfederasi yang disebut sebagai Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan yang terbentuk dari gabungan nagari-nagari ini runtuh setelah terjebak dalam siasat kolonial Belanda saat perang Padri bergejolak.
Sesuai dengan namanya, istana ini mengabadikan kemegahan arsitektur dari pusat pemerintahan kerajaan. Meskipun wujud yang berdiri megah sekarang ini bukanlah bangunan aslinya (replika), namun berbagai detail ataupun ciri khas arsitektur yang dimiliki masih sama seperti kondisinya di masa lampau.
Sebetulnya, Istano Basa Pagaruyung ini dahulunya merupakan kediaman dari Raja Alam, dan sekaligus pusat pemerintahan dari sistem konfederasi yang dipimpin oleh triumvirat (tiga pemimpin) berjuluk ‘Rajo Tigo Selo’.
Sistem kepemimpinan ini menempatkan Raja Alam sebagai pemimpin kerajaan dengan dibantu dua wakilnya, yaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo serta Raja Ibadat yang berkedudukan di Sumpur Kudus.
Kemudian, kedua wakil ini yang memutuskan berbagai perkara yang berkaitan dengan permasalahan adat serta agama. Tetapi, jika suatu permasalahan tidak terselesaikan, maka barulah Raja Pagaruyung (Raja Alam) turun tangan menyelesaikannya.
Di samping itu, replika dari bangunan asli yang dibakar Belanda pada tahun 1804 berbentuk sebuah rumah panggung yang berukuran besar dengan atap gonjong yang menjadi ciri khas dari arsitektur tradisional Minangkabau.
Rumah panggung besar ini bertingkat tiga, dengan 72 tonggak yang menjadi penyangga utamanya. Serta terdapat 11 gonjong atau pucuk atap yang menghias bagian atas dari bangunan ini.
Selain itu, seluruh dinding bangunan ini dihiasi oleh ornamen ukiran berwarna-warni yang secara total terdiri dari 58 jenis motif yang berbeda. Sebagai sebuah istana kerajaan, masing-masing tingkat dalam bangunan ini memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Tingkat paling bawah merupakan tempat aktivitas utama pemerintahan berupa sebuah ruang besar yang melebar dengan area khusus sebagai singgasana raja di bagian tengahnya. Tingkat kedua dari bangunan merupakan ruang aktivitas bagi para putri raja yang belum menikah.
Setelah insiden tahun 1804, istana ini akhirnya didirikan kembali, tetapi terbakar habis pada tahun 1966.
Lalu, pada 27 Desember 1976 upaya rekonstruksi ulang kembali dilakukan dengan ditandainya peletakan tunggak tuo (tiang utama) oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Harun Zain.
Namun pada 27 Februari 2007, istana ini kembali terbakar akibat tersambar petir. Upaya pembangunan kembali berlangsung antara tahun 2008-2012 dengan menelan dana lebih dari Rp20 miliar. Arsitektur aslinya tetap dipertahankan meskipun sebagian besar peninggalan barang berharga di dalamnya musnah dan hanya tersisa sekitar 15 persen.
Walau begitu, sampai saat ini Istana Pagaruyung tetap memiliki magnet tersendiri bagi para wisatawan. Bagi kalian yang sedang pergi berwisata ke Sumbar, jangan lupa untuk berkunjung ke sini, karena tempat ini memiliki keindahan dan ciri khasnya tersendiri.
Untuk untuk jam operasional, buka setiap hari mulai pukul 08.00-18.00 WIB. Harga tiket masuk Istana Pagaruyung sendiri yakni Rp15 ribu untuk dewasa dan Rp7.500 untuk anak-anak. Sedangkan untuk biaya sewa baju khas Minang berkisar dari harga Rp35 ribu sampai Rp75 ribu.
Artikel menarik lainnya:
Bikin cerita serumu dan dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: