INDOZONE.ID - Jepang dikenal dengan beragam budayanya yang masih diterapkan sampai sekarang.
Budaya mereka adalah bagian dari cara hidup masyarakat sejak dahulu. Salah satu yang terkenal ialah budaya atau tradisi minum teh di Jepang yang namanya Chanoyu.
Chanoyu, atau disebut dengan upacara minum teh Jepang, bukan hanya sekadar minum teh saja.
Kegiatan ini merupakan bagian dari sebuah ritual mendalam tentang simbolisasi filosofi hidup orang Jepang.
Tradisi ini diduga telah ada sejak abad ke-15 dan mencapai bentuknya yang lebih pakem di bawah pengaruh tokoh Sen Rikyu.
Dia dikenal sebagai tokoh penting yang mengharmonisasi estetika dan nilai spiritual dalam Chanoyu.
Sen Rikyu menggariskan bahwa Chanoyu memiliki empat prinsip dasar sebagai sebuah upacara, yaitu Wa (harmoni), Kei (rasa hormat), Sei (kemurnian), dan Jaku (ketenangan).
Baca Juga: Lebih dari Sekedar Minuman, Teh Tarik Jadi Simbol Persatuan di Asia Tenggara
Keempat prinsip mencerminkan cara minum teh yang elegan dan juga menyimbolkan pandangan hidup orang Jepang tentang perlunya manusia hidup berdampingan dengan alam.
Dalam tradisi Chanoyu, terdapat konsep keindahan yang dikenal dengan istilah "wabi."
Wabi menggambarkan kebahagiaan melalui hal sederhana dan rasa hening, juga rasa penghargaan terhadap hal-hal alami dan sederhana.
Filosofi ini menunjukan bahwa kehidupan yang sepi dan jauh dari keramaian akan mampu memberi kedamaian pada batin.
Ritual Chanoyu dipengaruhi oleh ajaran Zen Buddhisme. Ajaran inu bertujuan untuk menenangkan pikiran dan membawa ke dalam keadaan harmonis dengan alam.
Pokok utama dari upacara ini adalah untuk mencapai kedamaian batin dan keharmonisan dengan alam, melalui cara-cara sederhana seperti membersihkan pikiran dari gangguan duniawi.
Dalam prosesinya, upacara minum teh Chanoyu ini memerlukan persiapan matang dan perhatian mendetail pada setiap gerakan.
Biasanya, upacara ini diadakan di sebuah ruang teh yang dirancang khusus dengan tata letak minimalis yang mencerminkan rasa kesederhanaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jstor.org