Ilustrasi daerah di Indonesia yang menghasilkan marmer. (Dok. Gemini Ai)
INDOZONE.ID - Indonesia tidak hanya kaya akan rempah dan hasil laut, tetapi juga menyimpan harta karun geologis yang terkubur dalam lipatan pegunungannya. Salah satu komoditas non-migas yang menjadi simbol kemewahan dan kebanggaan geografis kita adalah batu marmer.
Bukan sekadar batu, marmer Indonesia adalah manifestasi dari proses metamorfosis ribuan tahun yang kini menghiasi gedung-gedung pencakar langit di Dubai hingga hunian elit di Eropa.
Mari kita petakan daerah-daerah utama yang menjadi lumbung "emas putih" Nusantara.
Baca juga: Dijamin Laris! Berikut Resep Marmer Cake Pandan Cheese Premium, Lembut, dan Harum Menggoda
Berbicara tentang marmer di Indonesia, ingatan kita pasti tertuju pada Besole, Tulungagung. Daerah ini merupakan sentra industri marmer tertua dan paling legendaris di Indonesia, yang sudah dieksploitasi sejak zaman kolonial Belanda.
Bergeser ke timur, Sulawesi Selatan memiliki hamparan pegunungan karst yang menyimpan cadangan marmer luar biasa besar, tepatnya di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) serta Maros.
Baca juga: Resep Pound Cake Marmer dengan Sentuhan Raspberry Segar
Di Jawa Barat, daerah Citatah, Bandung Barat, memegang peranan penting dalam sejarah pembangunan gedung-gedung ikonik di Jakarta.
Karakteristik: Marmer Citatah cenderung memiliki warna yang lebih hangat, seperti krem dan cokelat muda dengan pola urat yang tegas.
Transformasi: Meski beberapa area kini mulai beralih menjadi kawasan konservasi (Stone Garden), Citatah tetap menjadi simbol kekuatan geologi Jawa Barat yang pernah mendominasi pasar domestik.
Daya tarik marmer Nusantara di pasar internasional bukan sekadar masalah kuantitas, melainkan perpaduan antara kualitas teknis yang mumpuni dan estetika alami yang tak tertandingi.
Berikut adalah alasan mengapa marmer Indonesia menjadi primadona di dunia properti global:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan