INDOZONE.ID - Buat sebagian orang, nasi liwet dan nasi uduk sering dianggap kembar beda nama. Sama-sama gurih, sama-sama wangi, dan sama-sama jadi menu andalan buat sarapan atau acara kumpul keluarga.
Padahal, kalau ditelusuri lebih dalam, dua sajian khas nusantara ini punya perbedaan yang cukup mendasar. Yuk kita bedah tuntas.
Asal Usul yang Berbeda
Nasi uduk adalah kuliner khas Betawi yang sudah dikonsumsi masyarakat urban Jakarta sejak zaman kolonial, dan sampai sekarang jadi menu sarapan favorit di kota-kota besar.
Nama "uduk" sendiri konon berasal dari bahasa Sunda yang berarti "bercampur", merujuk pada proses memasak nasi yang dicampur santan dan berbagai bumbu.
Baca juga: Resep Nasi Uduk Sederhana: Harum, Gurih, dan Bikin Kangen Rumah!
Nasi liwet punya cerita yang sedikit lebih rumit karena sebenarnya ada dua versi populer dengan asal yang berbeda: nasi liwet Solo dan nasi liwet Sunda.
Nasi liwet Solo berasal dari Desa Menuran, Sukoharjo, Jawa Tengah, dan konon sudah tercatat dalam Serat Centhini sejak awal abad ke-19.
Awalnya disajikan untuk acara sekaten dan dipercaya sebagai simbol tolak bala sebelum akhirnya populer dijual bebas sekitar tahun 1934.
Sementara itu, nasi liwet Sunda lahir dari kebiasaan masyarakat agraris Jawa Barat yang memasak nasi dan lauk sederhana dalam satu wadah besar saat bekerja di sawah, sebuah tradisi yang kemudian berkembang menjadi budaya ngaliwet atau makan bersama.
Perbedaan Bumbu dan Bahan Utama
Nasi uduk dimasak dengan santan yang direbus bersama daun salam, daun pandan, serai, dan lengkuas, bahkan di sebagian resep ditambah kayu manis atau cengkeh untuk memperkaya aromanya.
Kombinasi rempah yang lebih banyak inilah yang membuat nasi uduk punya karakter rasa yang lebih kompleks dan aroma yang lebih "berani" dibanding nasi liwet.
Nasi liwet Solo juga menggunakan santan sebagai bahan utama, dicampur daun salam dan serai, sehingga rasanya gurih namun cenderung lebih ringan dan tidak seberani nasi uduk dari segi kekayaan rempah.
Menariknya, nasi liwet Sunda justru punya pendekatan yang sama sekali berbeda: umumnya tidak menggunakan santan sama sekali.
Rasa gurihnya berasal dari bumbu tumis berupa bawang merah, bawang putih, cabai, lengkuas, daun salam, serta tambahan ikan asin atau teri yang dimasukkan menjelang nasi matang, sehingga sumber rasa gurihnya lebih ke arah kaldu asin dari ikan ketimbang lemak santan.
Hal ini konon karena wilayah Sunda secara historis lebih merupakan daerah perkebunan dengan pasokan kelapa yang terbatas dibanding daerah pesisir.
Dari sisi teknik, nasi uduk umumnya dimasak dengan cara diaron terlebih dahulu, yaitu beras dimasak setengah matang bersama santan dan bumbu, baru kemudian dikukus hingga benar-benar matang.
Proses dua tahap ini membuat bumbu meresap merata ke seluruh butiran nasi. Nasi liwet Solo dan Sunda pada dasarnya menggunakan metode yang mirip, yaitu beras dimasak langsung bersama campuran bumbu dan cairan dalam satu wadah.
Biasanya panci atau kastrol, sampai matang sekaligus tanpa proses pengukusan terpisah. Istilah "liwet" sendiri memang merujuk pada teknik menanak nasi bersama bumbu dalam satu wadah ini.
Meski sama-sama nasi bersantan yang gurih dan wangi, nasi uduk dan nasi liwet punya identitas masing-masing yang cukup berbeda. Nasi uduk lebih "ramai" dari segi rempah dan lauk, praktis, serta identik dengan sarapan ala Betawi.
Baca juga: 5 Resep Nasi Uduk yang Enak, Gurih dan Pulen, Menu Sarapan di Akhir Pekan
Nasi liwet Solo lebih ringan dan homey dengan ciri khas areh santannya, cocok untuk makan malam atau acara keluarga. Sementara nasi liwet Sunda justru tidak memakai santan sama sekali dan mengandalkan gurihnya kaldu ikan asin/teri, dengan tradisi makan bersama yang kental nilai kebersamaannya.
Jadi, lain kali kalau ditawari nasi uduk atau nasi liwet, sekarang kamu sudah tahu persis apa yang membedakan keduanya, mulai dari bumbu di dalam panci sampai cara menikmatinya di atas daun pisang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cookpad, Sasa