INDOZONE.ID - Di tengah pesona budaya Pesisir Utara Jawa, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang penuh cerita cinta, politik, hingga akulturasi budaya.
Namanya adalah Masjid Mantingan yang berada di wilayah Jepara. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga peninggalan penting perjalanan Islam di tanah Jawa yang sarat makna sejarah.
Banyak yang menyebut masjid ini sebagai salah satu yang tertua setelah Masjid Agung Demak, dengan jejak pembangunan yang diperkirakan berasal dari tahun 1559 Masehi berdasarkan prasasti kuno di area mihrabnya.
Baca juga: Panduan Wisata Padang 2026: Daftar Destinasi Hits, Harga Tiket Terbaru, dan Fasilitas Lengkap!
Dibangun dari Kisah Cinta dan Tragedi Kerajaan
Sejarah Masjid Mantingan erat kaitannya dengan tokoh Kesultanan Demak, yakni Ratu Kalinyamat dan suaminya Sultan Hadlirin.
Sultan Hadlirin yang sebelumnya dikenal sebagai Raden Toyib merupakan ulama pengembara yang menimba ilmu hingga ke berbagai wilayah, termasuk Makkah, sebelum akhirnya menikah dengan Ratu Kalinyamat dan diangkat menjadi pemimpin di Jepara.
Namun, kehidupan mereka diwarnai konflik politik pada masa Sultan Trenggono yang berujung pada wafatnya Sultan Hadlirin.
Kejadian tragis ini membuat Ratu Kalinyamat membangun kompleks masjid sekaligus makam di Mantingan sebagai bentuk cinta dan penghormatan, yang sering disebut-sebut memiliki kemiripan dengan kisah “monumen cinta” seperti Taj Mahal di India.
Baca juga: Bosan Bawa Pempek? Ini 5 Oleh-oleh Khas Palembang Unik yang Bikin Teman Terkesan!
Perpaduan Budaya yang Unik di Setiap Sudut Bangunan
Keistimewaan Masjid Mantingan terletak pada arsitekturnya yang unik dan penuh perpaduan budaya. Bangunannya menggabungkan unsur Jawa, Hindu-Buddha, hingga Tionghoa dalam satu kesatuan yang harmonis.
Hal ini terlihat dari bentuk gapura melengkung, struktur bertingkat, serta ornamen yang kuat dipengaruhi seni era Majapahit.
Selain itu, beberapa detail seperti ubin dan dekorasi diduga memiliki sentuhan budaya Tionghoa, bahkan ada kemungkinan materialnya didatangkan dari luar wilayah pada masa itu.
Perpaduan ini menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di Jawa berlangsung secara adaptif, tidak menghapus budaya lama, melainkan menyatu dengan kearifan lokal yang sudah ada.
Baca juga: Masjid Menara Kudus, Tempat Wisata Religi yang Penuh Filosofi dan Bukan Sekadar Tempat Ibadah
Relief Kuno yang Penuh Filosofi
Salah satu daya tarik utama Masjid Mantingan adalah relief yang menghiasi dindingnya.
Hingga kini masih terdapat sekitar 114 panel relief yang tersisa, sementara sebagian lainnya disimpan di museum kecil yang berada dalam kompleks masjid.
Yang menarik, ukiran tersebut tidak menampilkan sosok makhluk hidup secara jelas, melainkan disajikan dalam bentuk simbol, motif flora, dan pola geometris yang selaras dengan nilai-nilai Islam pada masa itu.
Konon, beberapa relief awal sempat memuat kisah seperti Ramayana, namun kemudian diubah agar lebih sesuai dengan prinsip ajaran Islam yang berkembang saat itu.
Kompleks Makam dan Tradisi yang Masih Terjaga
Di bagian belakang masjid terdapat kompleks makam yang menjadi tempat peristirahatan tokoh penting, termasuk Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin.
Area makam ini memiliki tingkatan teras yang melambangkan status sosial pada masa lalu. Hingga kini, tempat ini masih menjadi tujuan ziarah, terutama saat haul dan tradisi Ganti Luwur yang digelar setiap tahun.
Bukan Sekadar Sejarah, Tapi Juga Spiritualitas Warga
Bagi masyarakat sekitar, kawasan Masjid Mantingan tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga dipercaya memiliki sisi spiritual yang masih hidup hingga kini.
Beberapa pohon dan titik tertentu di area kompleks bahkan dikaitkan dengan kepercayaan lokal yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Berdiri Sejak 1753, Gereja Blenduk Semarang Jadi Ikon Kota Sekaligus Destinasi Wisata
Namun, nilai terpentingnya tetap sebagai warisan budaya dan bukti perjalanan panjang penyebaran Islam di Jawa yang sarat toleransi dan akulturasi.
Masjid ini menjadi saksi bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga hidup dalam bangunan yang masih berdiri kokoh hingga sekarang, menyimpan kisah cinta, tragedi kerajaan, hingga perpaduan budaya yang membentuk identitas Nusantara — warisan yang perlu terus dipahami dan dijaga oleh generasi masa kini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Banggabersarung.com