Gereja Blenduk Semarang (google maps).
INDOZONE.ID - Di tengah hiruk-pikuk Kota Semarang, ada satu bangunan tua yang masih berdiri kokoh dan seolah menolak dimakan zaman. Namanya Gereja Blenduk — ikon bersejarah yang bukan cuma indah dipandang, tapi juga menyimpan cerita panjang sejak era kolonial.
Kalau kamu pernah main ke kawasan Kota Lama Semarang, pasti langsung notice bangunan ini. Kubah besarnya yang mencolok bikin siapapun susah untuk tidak melirik.
Meski populer dengan nama “Gereja Blenduk”, ternyata nama resminya adalah GPIB Immanuel Semarang. Lalu kenapa disebut “Blenduk”?
Baca juga: Berdiri Sejak 1600-an, Gereja Tertua di Jakarta Ini Simpan Cerita yang Bikin Wisatawan Merinding
Jawabannya simpel tapi menarik. Dalam bahasa Jawa, “blenduk” berarti sesuatu yang menonjol atau menggembung. Nama ini terinspirasi dari bentuk kubah besar gereja yang jadi ciri khas utamanya.
Gereja ini pertama kali dibangun pada tahun 1753 oleh komunitas Belanda yang tinggal di Semarang. Nggak heran kalau nuansa Eropa sangat terasa kuat di setiap sudut bangunannya.
Dengan usia lebih dari dua abad, Gereja Blenduk kini menyandang status sebagai gereja Kristen tertua di Jawa Tengah. Bayangin, bangunan ini sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.
Baca juga: Bedah Dua Stasiun Utama Yogyakarta: Mana yang Paling Dekat ke Malioboro?
Dari luar saja sudah terlihat unik, apalagi kalau kamu perhatikan lebih detail. Bangunan gereja ini punya bentuk dasar segi delapan yang jarang ditemui pada bangunan lain.
Kubah besar berlapis perunggu di bagian atas jadi highlight utamanya. Ditambah lagi, dua menara di bagian depan membuat tampilannya semakin megah dan berkarakter.
Masuk ke dalam, suasananya langsung terasa beda. Interiornya mengusung konsep salib Yunani dengan sentuhan khas Eropa klasik. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah orgel bergaya barok yang masih terawat dengan baik hingga sekarang.
Baca juga: Ngapain Sewa Hotel Mahal? 4 Penginapan di Anyer Ini Punya View Pantai yang Sama Cantiknya!
Seiring berjalannya waktu, bangunan ini sempat mengalami renovasi besar pada tahun 1894. Proses pembaruan ini dikerjakan oleh dua tokoh, yaitu W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde.
Mereka menambahkan dua menara di bagian depan gereja tanpa menghilangkan karakter aslinya. Hasilnya? Perpaduan arsitektur yang tetap klasik tapi terlihat lebih kokoh dan elegan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Traveloka