Ilustrasi festival Hanami. (Freepik)
INDOZONE.ID - Musim semi merupakan sebuah waktu paling ajaib untuk mengunjungi Jepang. Sebab saat salju mencair, seluruh negeri berubah menjadi kanvas berwarna merah jambu dan putih yang mempesona.
Fenomena ini bukan sekadar pergantian musim, melainkan perayaan budaya yang telah berakar selama berabad-abad lamanya.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai festival musim semi paling populer di Jepang, dengan fokus utama pada tradisi Hanami:
Baca juga: Modal 6 Bahan, Japanese Purin Lembut ala Dessert Jepang Favorit
Secara harfiah, Hanami berarti "melihat bunga" (hana = bunga, mi = melihat). Tradisi ini bermula dari periode Nara (710–794).
Sakura mekar dengan sangat indah, namun hanya bertahan sekitar satu hingga dua minggu sebelum gugur. Bagi masyarakat Jepang, ini melambangkan sifat kehidupan yang fana-indah namun singkat atau biasa masyarakat Jepang menyebutnya mono no aware.
Tradisi Hanami dilakukan dengan berpiknik di bawah pohon sakura yang tengah mekar bersama keluarga, teman, atau rekan kerja sambil menikmati makanan dan minuman.
Ilustrasi festival Hanami di Jepang. (Freepik)
Baca juga: Sejarah Sushi: Kuliner Jepang yang Berawal dari Teknik Pengawetan Ikan
Waktu mekarnya sakura bervariasi setiap tahun tergantung suhu udara, namun secara umum mengikuti "Sakura Zensen" atau Garis Depan Sakura:
Beberapa tempat untuk menikmati traidis Hanami yang paling populer di Jepang di antaranya adalah:
Bagi warga Jepang, Hanami adalah momen sosial penting untuk mempererat hubungan. Di perkantoran, biasanya karyawan paling muda akan datang pagi-pagi sekali untuk "menandai" tempat piknik terbaik dengan alas plastik biru.
Keindahan visual yang luar biasa menjadikan Jepang destinasi impian. Selain pemandangan, wisatawan tertarik pada produk musiman edisi terbatas, seperti Starbucks Sakura Latte, cokelat kit-kat rasa sakura, hingga Sakura Mochi.
Selain Hanami, ada beberapa festival besar lainnya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan