Senin, 07 OKTOBER 2024 • 11:00 WIB

6 Fakta Menarik Jinrikisha, Becak Tradisional Jepang Bertenaga Manusia

Author

Jinrikisha Merupakan Moda Transportasi Tradisional Jepang

INDOZONE.ID - Jinrikisha merupakan becak tradisional yang ditarik oleh manusia dan menjadi salah satu ikon pariwisata di Kyoto, Jepang.

Jepang dikenal sebagai salah satu negara maju di Asia Tenggara yang terkenal akan teknologinya yang maju.

Selain itu, transportasi umum serta pelayanan publik lainnya juga terkenal canggih dan berteknologi maju, sehingga semua bisa berjalan secara efektif dan efisien.

Baca Juga: Kota Fujikawaguchiko di Jepang Pasang Pagar untuk Batasi Turis di Gunung Fuji, Kenapa?

Namun siapa sangka, ternyata di Jepang masih ada juga transportasi tradisional yang menggunakan tenaga manusia seperti jinrikisha, sebuah becak tradisional Jepang yang unik dan menarik untuk dicoba.

Untuk mengenal lebih jauh tentang jinrikisha, berikut beberapa fakta menarik seputar jinrikisha, becak tradisional yang ada di Kyoto, Jepang.

6 Fakta Menarik Jinrikisha

Semakin berkembangnya teknologi, membuat banyak di negara menggunakan transportasi yang semakin canggih.

Berbeda dengan Jepang, di negara Jepang ini masih ada transportasi tradisional yang sering digunakan oleh masyarakat setempat. Transportasi itu bernama jinrikisha.

Berikut ini, 5 fakta menarik seputar moda transportasi tradisional jinrikisha, yang dikutip dari japanesestation.com.

1. Kendaraan Antar Kota di Zaman Meiji

Kendaraan Antar Kota di Zaman Meiji

Jinrikisha mulai beroperasi sekitar tahun 1868, yaitu ada periode zaman Meiji. Sekilas, bentuknya memang tampak tidak asing, karena jinrikisha ini terinspirasi dari sebuah kereta kuda.

Pada awalnya, jinrikisha digunakan sebagai alat transportasi untuk pergi ke kota agar waktu tempuhnya bisa lebih cepat daripada pergi dengan berjalan kaki.

Baca Juga: Bunga Sakura Bermekaran di Jepang, Berikut Lokasi yang Bisa Dikunjungi

Pada zaman dahulu, ada banyak sekali jinrikisha di Jepang.

Namun, seiring berjalannya waktu, ditambah dengan mulai munculnya kendaraan mesin seperti kereta api, mobil, maupun motor, maka jumlah jinrikisha semakin berkurang, dan saat ini hanya digunakan sebagai kendaran wisata saja.

2. Arti Jinrikisha

Asal Mula Nama Jinrikisha

Jinrikisha merupakan gabungan dari beberapa kata yaitu 'jin' yang berarti manusia, 'riki' yang berarti kekuatan atau tenaga, serta 'sha' yang berarti kendaraan.

Jadi, jika digabungkan ke dalam kalimat, jinrikisha berarti kendaraan yang menggunakan kekuatan atau tenaga manusia.

Hampir mirip dengan becak yang ada di Indonesia, jinrikisha juga dikemudikan oleh manusia.

Namun, perbedaannya adalah kalau becak dikemudikan dengan cara mengayuh atau menggunakan bantuan mesin, jinrikisha ini dikemudikan dengan menarik kendaraan tersebut secara langsung.

3. Nenek Moyang Becak di Indonesia

Nenek Moyang Becak di Indonesia

Menurut sejarah, jinrikisha tak hanya digunakan di Jepang saja, melainkan di berbagai negara Asia lainnya selama ratusan tahun.

Kemudian, jinrikisha turut digunakan oleh orang-orang Eropa saat datang ke Asia.

Di tahun 1941, sebuah kendaraan mirip jinrikisha yang bernama be-cia atau becak masuk ke Indonesia.

Berita yang beredar, asal mulanya jinrikisha ini adalah pada saat seorang warga Tiongkok-lah yang membawa jinrikisha ke Surabaya.

4. Daya Tarik Wisata di Kyoto, Jepang

Ilustrasi becak tradisional jinrikisha

Keberadaan jinrikisha bisa kamu temukan di beberapa kawasan wisata, terutama Kyoto, Jepang.

Keunikan dan fleksibilitasnya melewati jalan-jalan kecil menjadi daya tarik tersendiri untuk sektor pariwisata.

Rute yang dilewati pun bebas, terserah kamu sebagai penumpang.

Selain Kyoto, kamu bisa menjumpai jinrikisha di kawasan Asakusa, Kamakura, dan Hokkaido.

5. Orang yang Mengemudikan Jinrikisha disebut Shafu

Orang yang Mengemudikan Jinrikisha disebut Shafu

Orang-orang yang menarik jinrikisha ini disebut dengan shafu, dan ada juga yang menggunakan sebutan shariki.

Pada awalnya, pada zaman dulu, shafu hanya diperuntukkan oleh seorang laki-laki. Namun, sekarang perempuan juga bisa menjadi shafu.

Hal uniknya, yaitu shafu/shariki ini selain mengajak para penumpang untuk berkeliling, mereka juga akan menjadi pemandu wisata yang akan menjelaskan wisata maupun budaya yang ada di Jepang.

Selain harus memiliki fisik yang kuat, seorang shafu/shariki juga harus memiliki kemampuan bahasa asing, memiliki pengetahuan yang luas seputar Jepang, serta sifat yang ramah dengan penumpang.

6. Harganya Cukup Mahal

Tarif Jinrikisha Termasuk Cukup Mahal

Untuk bisa merasakan transportasi tradisional Jepang ini, tarifnya cukup mahal.

Dalam waktu 15 menit saja, akan dikenai tarif kurang lebih 3.000 yen per orang. Sedangkan untuk 1 jam nya, bisa mencapai sekitar 13.000 yen.

Namun, tentunya hal ini sepadan dengan kerja keras dari para shafu yang mengerahkan tenaganya untuk membawa kita berkeliling sekaligus menjadi pemandu wisata untuk kita.

Jinrikisha menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan asing.

Walaupun harganya cukup menguras kantong, namun tidak sedikit pula orang yang tetap ingin mencobanya demi merasakan pengalaman naik kendaraan tradisional Jepang ini.

 

Penulis: Hilwah Nur Puspitawati

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pinterest.com, Japanesestation.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU