Senin, 06 APRIL 2026 • 14:00 WIB

Awalnya Cuma ‘Bubur Sisa’, Kini Jadi Primadona Ramadan! Kisah Tak Terduga di Balik Bubur Kampiun

Author

Bubur kampiun khas Minang. (Z Creators/Sri Lili Syaf Putri)

INDOZONE.ID - Kalau kamu lagi atau berencana ke Sumatra Barat saat bulan Ramadan, ada satu kuliner legendaris yang nggak boleh dilewatkan: bubur kampiun. Sekilas terlihat seperti bubur biasa, tapi begitu dicicipi, rasanya langsung “nendang” dan bikin nagih.

Di tengah deretan kuliner khas Minang yang terkenal kaya rempah dan bercita rasa kuat, bubur kampiun hadir sebagai pilihan manis yang justru jadi favorit banyak orang saat berbuka puasa. Perpaduan rasa gurih santan dan manis gula merahnya sukses bikin siapa saja jatuh cinta sejak suapan pertama.

Berawal dari Ketidaksengajaan, Berakhir Jadi Legenda

Siapa sangka, kuliner ikonik ini ternyata lahir dari sebuah “kecelakaan dapur”.

Cerita bermula pada tahun 1960-an, setelah masa revolusi di Indonesia. Saat itu, seorang nenek bernama Amai Zona mengikuti lomba kreasi membuat bubur yang diadakan oleh Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di daerah Jambu Air, Banuhampu, Bukittinggi.

Namun, karena datang terlambat dan tidak sempat menyiapkan hidangan dengan matang, Amai Zona mengambil langkah nekat: mencampurkan berbagai jenis bubur dagangannya yang tersisa ke dalam satu wadah.

Tak disangka, racikan “asal jadi” tersebut justru mencuri perhatian juri dan keluar sebagai pemenang. Dari situlah nama bubur kampiun lahir, “kampiun” yang berarti “juara”.

Sejak saat itu, bubur ini mulai dikenal luas dan menjadi salah satu kuliner khas yang melekat kuat dengan identitas Sumatera Barat.

Baca juga: Ternyata Filosofi Bubur Kampiun Berasal dari Sifat Baik Allah SWT, Begini Kisahnya!

Isinya Bukan Main, Sekali Suap Langsung Komplet

Yang bikin bubur kampiun berbeda dari bubur lainnya adalah isiannya yang sangat beragam dalam satu mangkuk.

Biasanya, bubur ini terdiri dari:

  • Ketan putih kukus sebagai dasar
  • Bubur sumsum yang lembut
  • Bubur ketan hitam yang legit
  • Kolak pisang atau ubi
  • Candil (bola-bola tepung ketan)
  • Kacang hijau

Semua komponen ini disusun dalam satu mangkuk, lalu disiram dengan kuah santan dan gula merah yang kental. Hasilnya, perpaduan tekstur dan rasa yang kompleks mulai dari lembut, kenyal, hingga creamy semuanya menyatu sempurna.

Menariknya, di beberapa daerah, komposisinya bisa sedikit berbeda. Ada yang mengganti ketan dengan lupis atau menggunakan bubur delima sebagai variasi. Bahkan, beberapa pedagang memilih tidak menyertakan candil karena proses pembuatannya yang cukup rumit.

Proses Masaknya Rumit, tapi Worth It Banget

Seporsi bubur kampiun yang mengenyangkan (Jafriyal/IDZ Creators)

Di balik kelezatannya, bubur kampiun memiliki proses pembuatan yang tidak sederhana.

Para pedagang biasanya sudah mulai memasak sejak dini hari. Setiap jenis bubur dimasak secara terpisah di panci yang berbeda. Untuk menghasilkan satu sajian lengkap, setidaknya ada enam jenis bahan yang dimasak bersamaan di enam tungku.

Ini bukan hanya soal memasak, tetapi juga soal waktu dan konsistensi rasa. Setiap komponen harus matang dengan tekstur yang pas, dan rasa manis-gurihnya harus seimbang agar saat digabungkan tetap harmonis.

Baca juga: Bubur Kampiun Ternyata Kuliner Asli Minang, Semangkuk Isiannya Banyak Banget

Jadi Primadona Saat Ramadan

Bubur kampiun identik dengan bulan puasa. Tak heran jika jajanan ini paling mudah ditemukan saat Ramadan, terutama di pasar takjil atau pinggir jalan di wilayah Padang dan sekitarnya.

Rasanya yang manis dan mengenyangkan membuat bubur ini cocok sebagai menu berbuka. Selain itu, sensasi hangat dan creamy dari santannya juga memberikan rasa nyaman setelah seharian berpuasa.

Tidak hanya untuk buka puasa, bubur kampiun juga sering disajikan saat acara keluarga atau momen spesial sebagai hidangan penutup.

Sekali Coba, Susah Move On

Meski terlihat “ramai” dengan banyak isian, justru di situlah letak keistimewaannya. Setiap sendok bubur kampiun menghadirkan pengalaman rasa yang berbeda, kadang manis lembut, kadang kenyal, kadang gurih namun tetap menyatu.

Kuliner ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita. Dari sebuah ketidaksengajaan, lahirlah hidangan legendaris yang kini menjadi kebanggaan Sumatra Barat.

Jadi, kalau kamu sedang berada di Tanah Minang saat Ramadan, jangan hanya mencari rendang atau sate Padang. Sisakan ruang di perutmu untuk semangkuk bubur kampiun, si “juara” yang lahir dari keberanian mencoba.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Indonesiakaya.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU