Jumat, 13 MARET 2026 • 16:35 WIB

Sejarah Ketupat: Warisan Sunan Kalijaga yang Bukan Sekadar Hidangan Lebaran

Author

Ilustrasi ketupat. (AI/Gemini)

INDOZONE.ID - Siapa yang tak kenal ketupat? Hidangan ikonik berbahan beras yang dibungkus anyaman janur kuning ini selalu jadi primadona saat Hari Raya Idul Fitri. 

Namun, tahukah Anda bahwa di balik kelezatannya, ketupat menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu?

Merujuk pada jurnal ilmiah yang dipublikasikan dalam Journal of Ethnic Foods via ScienceDirect, ketupat ternyata bukan sekadar makanan pengganjal perut. Ada peran besar Wali Songo di balik kepopulerannya.

Baca juga: Jus Jeruk Enaknya Dicampur Apa? Ini Kombinasi Terbaiknya

Diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga

Sejarah mencatat bahwa ketupat pertama kali diperkenalkan sebagai syiar Islam oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga ke-16. 

Saat itu, Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa, khususnya di wilayah Demak, Jawa Tengah.

Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah penting bagi masyarakat Jawa: Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. 

Bakda Lebaran dirayakan pada hari pertama Idul Fitri, sedangkan Bakda Kupat dirayakan seminggu kemudian. 

Baca juga: Bikin Kangen Rumah! Ini 5 Menu Wajib Saat Hari Raya Idul Fitri

Pada momen inilah ketupat menjadi simbol utama persatuan dan kerukunan.

Makna Filosofis: Ngaku Lepat dan Laku Papat

Secara etimologi, kata "Ketupat" atau "Kupat" dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari "Ngaku Lepat" yang artinya mengakui kesalahan. 

Tradisi ini sangat lekat dengan budaya sungkeman, di mana seseorang memohon maaf kepada orang tua atau kerabatnya.

Tak hanya itu, ketupat juga melambangkan "Laku Papat" atau empat tindakan yang menjadi inti perayaan Lebaran:

Baca juga: Fakta Unik Ramadan: Buku Resep di Afrika Selatan Ini Pakai Kata Sunda “Boeka”

  1. Lebaran: Usai atau selesainya masa puasa.
  2. Luberan: Melimpah, sebagai simbol berbagi sedekah dan zakat fitrah.
  3. Leburan: Melebur atau menghapus dosa dengan saling memaafkan.
  4. Laburan: Berasal dari kata "labur" (kapur), yang berarti kembali putih atau suci lahir batin.

Rahasia di Balik Anyaman dan Isi yang Putih

Jurnal tersebut juga membedah anatomi ketupat secara filosofis. 

Rumitnya anyaman janur kuning dianggap mewakili kerumitan kesalahan manusia atau jalan hidup yang penuh lika-liku. 

Baca juga: Negara dengan Makanan Terpedas di Dunia, Ada Indonesia dan Thailand

Namun, ketika ketupat dibelah, terlihat nasi putih yang padat dan bersih.

Warna putih pada nasi ini melambangkan kesucian hati setelah menjalani ibadah puasa dan saling memaafkan. 

Selain itu, penggunaan janur (daun kelapa muda) dipercaya sebagai simbol penolak bala atau keberuntungan dalam budaya masyarakat agraris zaman dahulu.

Evolusi Ketupat di Nusantara

Meskipun berakar dari tradisi Jawa, ketupat kini telah berevolusi dan menyebar ke seluruh penjuru Nusantara bahkan ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. 

Baca juga: Cara Membuat Duel Bangkit Khas Riau yang Enak, Sajian Wajib Lebaran

Setiap daerah memiliki pendamping ketupat yang khas, mulai dari opor ayam di Jawa, Coto di Makassar, hingga rendang di Sumatera.

Kini, ketupat telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya takbenda Indonesia yang terus dijaga kelestariannya. 

Jadi, saat Anda menyantap ketupat Lebaran nanti, ingatlah bahwa ada nilai sejarah dan pesan perdamaian yang terajut di setiap anyamannya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Journal Of Ethnic Foods

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU