INDOZONE.ID - Imlek di Indonesia identik dengan perayaan yang meriah penuh dengan makna, tradisi, dan simbol.
Selain menghias rumah dengan lampion merah dan berkumpul bersama keluarga, momen perayaan Imlek juga erat dengan beragam kuliner khas. Setiap kuliner dalam perayaan Imlek identik dengan keberuntungan dan kemakmuran.
Di tengah ragam hidangan yang disajikan selama perayaan Imlek, salah satu yang unik adalah lontong Cap Go Meh.
Makanan ini lahir dari perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara, sekaligus menjadi simbol perayaan Cap Go Meh yang jatuh 15 hari setelah Imlek.
Baca juga: Resep Unstuffed Peppers: Praktis, Lezat, dan Bergizi
Makna Perayaan Cap Go Meh
Puncak dari kemeriahan Tahun Baru Imlek ditandai dengan perhelatan Cap Go Meh, yang berarti malam kelima belas dalam dialek Hokkien.
Cap Go Meh dirayakan tepat saat bulan purnama pertama berdasarkan penanggalan lunar.
Puncak perayaan tersebut dimeriahkan dengan lentera warna-warni, musik pengiring barongsai, hingga tradisi menyantap hidangan khas seperti mi panjang umur dan lontong Cap Go Meh yang kaya akan makna.
Akar sejarah tradisi ini sudah lama lahir sejak era Dinasti Han di Tiongkok ribuan tahun silam.
Pada awalnya, penyalaan lampion merupakan ritual keagamaan para biksu untuk memuliakan sang Buddha pada hari ke-15 di awal tahun penanggalan lunar.
Namun, seiring berjalannya waktu, praktik ini kemudian diserap oleh masyarakat umum dan berkembang menjadi pesta rakyat yang tersebar hingga ke berbagai wilayah di Asia, termasuk Indonesia.
Baca juga: Jangan Sampai Disita! Ini Daftar Barang yang Tidak Boleh Dibawa ke Kabin Pesawat
Sejarah Lontong Cap Go Meh
Lontong Cap Go Meh bukan sekadar kuliner, melainkan juga jejak sejarah dan budaya. Hidangan ini diyakini lahir dari ide komunitas Tionghoa di Indonesia, dalam menyesuaikan masakan mereka dengan cita rasa lokal.
Sejak zaman Majapahit, para perantau Tionghoa laki-laki menetap di kota-kota pelabuhan pesisir utara Jawa seperti Semarang, Pekalongan, Lasem, dan Surabaya.
Banyak dari mereka menikah dengan perempuan Jawa. Perkawinan itu menciptakan harmoni perpaduan budaya Peranakan Tionghoa-Jawa yang unik.
Saat perayaan Imlek mencapai puncaknya di hari Cap Go Meh, kaum Peranakan tersebut mengganti tradisi makan bola-bola ketan (yuanxiao) dengan lontong yang kaya rasa.
Lontong ini dipadukan dengan berbagai hidangan khas Jawa, mulai dari opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng hati, hingga telur pindang dan abon sapi.
Tak ketinggalan, bubuk koya, sambal pedas, acar, hingga kerupuk turut melengkapi hidangan ini sehingga terasa lebih lengkap dan meriah.
Lontong Cap Go Meh dipercaya membawa keberuntungan, rezeki melimpah, dan kemakmuran bagi siapa saja yang menikmatinya.
Baca juga: Resep Maple Bacon Latte: Kopi dengan Perpaduan Manis dan Gurih
Filosofi Lontong Cap Go Meh
Sepiring lontong cap go meh biasanya dihidangkan bersama lodeh terong, sambal goreng hati dan kentang, opor ayam, telur pindang, hingga tambahan khas, seperti abon, serundeng, dan bubuk kedelai.
Setiap lauk punya filosofi tersendiri. Lontong melambangkan umur panjang, telur pindang sebagai simbol rezeki, sementara opor ayam dengan kuah kuning keemasan menandakan kemakmuran.
Warna kuning pada hidangan ini pun erat kaitannya dengan keberuntungan, sama seperti tradisi Imlek yang menghormati emas sebagai simbol rezeki dan kesuksesan.
Cara penyajian lontong cap go meh pun tidak kalah menarik. Piring akan disajikan penuh menjulang dengan lauk dan kuah melimpah.
Cara penyajian seperti itu mengadaptasi tradisi Jawa yang menjadikan makan dalam porsi banyak sebagai bentuk syukur.
Bagi masyarakat Tionghoa, piring penuh ini melambangkan doa dan harapan agar rezeki terus mengalir sepanjang tahun.
Mereka juga meyakini, tiap suapan yang ditelan juga merupakan representasi dari doa dan keberuntungan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca juga: Resep Panisses: Camilan Klasik dari Provence
Variasi Penyajian Lontong Cap Go Meh
Di Semarang dan Jawa Tengah, lontong Cap Go Meh dikenal sebagai hidangan dengan komposisi standar, tapi tetap kaya rasa
Umumnya, komunitas Tionghoa di sana menyajikan makanan tersebut dengan irisan lontong, opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng, telur pindang, dan pelengkap, seperti bubuk koya serta kerupuk.
Versi ini paling sering dikaitkan dengan tradisi akulturasi Peranakan Tionghoa‑Jawa, yang sudah berlangsung sejak lama. Itu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Cap Go Meh di kota-kota tersebut.
Sementara itu, di Jakarta dan sekitarnya, Lontong Cap Go Meh juga populer. Akan tetapi, makanan ini lebih sering ditemui di restoran dan warung makan selama perayaan Imlek.
Selain versi lontong dengan lauk dasar, ada pula varian yang dilengkapi dengan pelengkap berbeda, tergantung restoran atau warung yang tawarkan.
Di Surabaya dan beberapa daerah Jawa Timur, variasi penyajian lontong Cap Go Meh sedikit berbeda dibanding Jawa Tengah.
Beberapa sumber menyebut bahwa selain lauk tradisional seperti opor dan sambal goreng, lontong Cap Go Meh di Surabaya biasanya ditambah dengan bumbu petis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Binus.ac.id, Indonesia Travel