Sabtu, 02 AGUSTUS 2025 • 14:35 WIB

Sate Ulat Sagu, Kuliner Ekstrem Papua yang Bikin Merinding Tapi Ketagihan!

Author

Ilustrasi ulat sagu (Freepik)

INDOZONE.ID - Kalau Kamu merasa sudah mencicipi kuliner paling ekstrem di Indonesia, sebaiknya pikir ulang—karena sate ulat sagu khas Papua bisa jadi pengalaman yang benar-benar berbeda. 

Di balik tampilannya yang bikin bergidik, ternyata kuliner ini menyimpan cita rasa yang mengejutkan. 

Gurih, lembut, dan katanya bisa bikin Kamu lupa kalau yang sedang Kamu kunyah adalah seekor ulat besar gemuk berwarna putih!

Makanan khas Papua ini memang bukan sembarang camilan. Ia bukan hanya menyimpan warisan budaya masyarakat lokal, tapi juga menjadi magnet rasa penasaran bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Di banyak daerah lain, ulat mungkin dianggap hama atau bahkan sesuatu yang harus dihindari. Tapi di Papua, ulat sagu justru naik pangkat menjadi salah satu sajian yang paling diburu!

Baca juga: Es Cendol Latte: Sensasi Baru Minuman Tradisional yang Naik Kelas Tanpa Kehilangan Identitas!

Diburu dari Dalam Pohon Sagu

Ulat sagu—larva dari kumbang merah—biasanya ditemukan di dalam batang pohon sagu yang sudah ditebang atau mulai membusuk. 

Proses pencariannya membutuhkan waktu dan kesabaran. Biasanya, warga setempat akan menebang pohon sagu lebih dulu dan membiarkannya membusuk selama beberapa minggu agar ulat-ulat dapat berkembang secara alami. 

Setelah waktunya tiba, bagian dalam batang dibongkar, dan serat-serat sagu dikais satu per satu untuk menemukan ulat-ulat yang tersembunyi di dalamnya.

Setelah dikumpulkan, ulat bisa langsung dimakan mentah, digoreng, dibakar, atau dijadikan sate. 

Tapi sajian yang paling populer—dan paling Instagrammable—adalah sate ulat sagu. 

Disusun berjejer di tusukan kayu, dibakar di atas bara api, dan disajikan panas-panas, sate ini siap menguji keberanian sekaligus lidah para petualang kuliner sejati.

Baca juga: 17 Ide Nama Jus Jeruk yang Unik, Kekinian, dan Bikin Pelanggan Langsung Penasaran

Tekstur Lembut, Rasa Gurih Mirip Daging

Meski tampak ekstrem, ulat sagu ternyata mengandung nilai gizi yang cukup tinggi. 

Dalam dunia biologi, serangga ini termasuk sumber protein, lemak baik, dan asam amino esensial. Bahkan, beberapa penelitian menyebutkan ulat sagu mengandung nutrisi lebih tinggi dibandingkan daging sapi dalam jumlah yang sama.

Bagaimana dengan rasanya? Banyak orang menyamakannya dengan kombinasi antara telur puyuh rebus dan lemak dari ayam panggang. 

Teksturnya lembut dan agak berlemak, tapi tidak amis. Bila dibakar dengan bumbu khas Papua seperti cabai rawit dan garam, rasanya semakin ‘nendang’ dan bikin kaget siapa pun yang mencoba untuk pertama kalinya.

Baca juga: Renyah dan Lumer di Tiap Gigitan: Yuk Cobain Resep Chicken Cheese Pocket!

Kuliner yang Dihormati, Bukan Sekadar Tantangan

Di Papua, ulat sagu bukan hanya camilan ekstrem. Ia punya nilai budaya yang tinggi. 

Masyarakat Suku Asmat dan beberapa komunitas adat lainnya menjadikan ulat sagu sebagai bagian dari ritual adat, pesta panen, hingga jamuan untuk tamu penting. 

Penyajiannya dilakukan dengan penuh penghormatan, bukan hanya demi sensasi seperti tren kuliner ekstrem di kota besar.

Artinya, ketika Kamu mencicipi sate ulat sagu di Papua, Kamu bukan hanya makan, tapi juga menyentuh lapisan dalam dari tradisi dan kearifan lokal masyarakat Papua. 

Inilah yang membuat kuliner ini terasa sangat berbeda dibandingkan tantangan makan serangga di konten-konten viral.

Baca juga: Resep Crepe Matcha Isi Strawberry, Camilan Manis Lembut ala Kafe!

Di Mana Bisa Menemukannya?

Sate ulat sagu bisa Kamu temukan di pasar-pasar tradisional di Papua, terutama di wilayah pedalaman atau saat festival budaya berlangsung. 

Kota seperti Timika, Manokwari, dan Wamena kadang menyuguhkan kuliner ini dalam ajang promosi wisata lokal. 

Tapi untuk pengalaman yang benar-benar otentik, Kamu harus menyusuri desa-desa kecil tempat masyarakat masih hidup berdampingan langsung dengan hutan sagu.

Kini, sejumlah agen wisata juga menyediakan paket culinary tour ke wilayah pedalaman Papua. 

Dalam perjalanan ini, wisatawan diajak terlibat langsung dalam proses pencarian ulat sagu di alam, sekaligus belajar bagaimana cara mengolah dan memasaknya bersama masyarakat setempat. 

Ini tentu jadi pengalaman tak terlupakan buat Kamu yang ingin menjelajahi Papua lebih dalam, bukan cuma dari sisi alam tapi juga budaya dan rasa.

Baca juga: Gurih dan Renyah! Begini Resep Udang Crunchy, Camilan Lezat yang Bikin Nagih

Berani Coba?

Bagi sebagian orang, sate ulat sagu bisa terasa cukup ekstrem atau bahkan menimbulkan rasa geli. 

Tapi di balik wujudnya yang ekstrem, tersembunyi kelezatan yang menantang persepsi kita tentang makanan. 

Kalau Kamu termasuk pencinta kuliner sejati yang siap mencoba hal baru, sate ulat sagu wajib masuk dalam daftar buruanmu berikutnya.

Tak hanya sekadar makanan, kuliner ini adalah potret nyata bagaimana masyarakat Papua memaknai alam sekitarnya sebagai sumber kehidupan. 

Makan ulat sagu bukan hanya tentang rasa, tapi juga tentang menghargai keberagaman dan kekayaan budaya Nusantara yang luar biasa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: HolidayAyo

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU