Nasi jagung (id.wikipedia.org)
INDOZONE.ID - Kegemaran Soekarno dalam memakan nasi jagung merupakan salah satu caranya untuk mendukung pertanian Indonesia pada masa itu.
Kegemarannya ini tak hanya menunjukkan kecintaannya pada hasil bumi lokal, tetapi juga merupakan bentuk dukungannya terhadap sektor pertanian Indonesia pada masa itu.
Makanan favorit Soekarno ini telah menunjukkan peran penting petani dalam kehidupan pangan di Indonesia.
Sebuah resep nasi jagung yang dibuat dengan tradisional ditemukan dalam buku Mustikarasa.
Buku ini merupakan resep masakan tradisional Indonesia warisan Soekarno.
Buku ini memberikan gambaran menarik tentang bagaimana nasi jagung dibuat dengan memanfaatkan kekayaan rempah dan hasil bumi.
Inilah resep nasi jagung yang sederhana, bergizi, khas, dan melestarikan tradisi agraris.
- 1 kg biji jagung yang sudah dipipil
- Air
- Tumbuk jagung.
- Kemudian diayak sampai bersih, jadi beras jagung.
- Setelah itu, beras jagung harus dicuci.
- Rendam beras jagung dalam air hingga 3 hari 3 malam.
- Selesai direndam, lalu cuci dan tiriskan.
- Tumbuk beras jagung hingga berubah menjadi tepung halus.
- Saring tepung beras jagung.
- Tepung beras jagung diberi air kurang lebih 2 gelas, aduk hingga rata.
- Kukus hingga setengah matang.
- Lalu, letakkan di atas tampah dan berikan air panas 2 gelas, aduk sampai dingin.
- Kukus hingga matang.
Baca Juga: Resep Nasi Jagung Goreng Ala Rumahan, Masakan Jadul Enak dan Mudah
Nasi jagung yang lembut dan harum pun siap disantap.
Untuk penyajiannya, nasi jagung bisa disajikan dengan lauk sederhana, seperti ikan asin dan sayur lodeh, maupun dengan hidangan khas lainnya.
Resep ini tidak hanya mencerminkan kekayaan kuliner Indonesia, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya mendukung sektor agraris demi keberlanjutan pangan nasional.
Nasi jagung selain penuh nutrisi, makanan ini juga melambangkan dukungan terhadap sektor pertanian lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku Mustikarasa