Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 20 MEI 2026 • 16:05 WIB

Hari Teh Internasional dan Kisah Panjang Budaya Minum Teh di Indonesia

Hari Teh Internasional dan Kisah Panjang Budaya Minum Teh di IndonesiaPerkebunan teh. (Istimewa)

INDOZONE.ID - Tradisi minum teh telah lama mengakar kuat dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Menyajikan secangkir teh kepada tamu bukan sekadar suguhan biasa, melainkan simbol kehangatan dan keramahan yang melekat erat dalam keseharian keluarga di tanah air. 

Eksistensi minuman ini diperkuat oleh data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS periode 2023–2024, yang menempatkan teh sebagai minuman kedua yang paling sering dikonsumsi masyarakat Indonesia setelah air putih.

Tidak heran jika setiap 21 Mei, peringatan Hari Teh Internasional turut menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang teh, mulai dari perkebunan hingga akhirnya hadir dalam keseharian masyarakat di Indonesia.

Baca juga: 5 Tempat Minum Teh di Jakarta yang Lagi Hype dan Nyaman Buat Quality Time atau WFC

Kebiasaan mengonsumsi teh juga tercermin dalam riset Roy Morgan (Single Source - Indonesia), yang menunjukkan bahwa teh menjadi salah satu kebutuhan rutin rumah tangga Indonesia dan tersedia di 95% - 97% dapur keluarga. 

Hal tersebut membuktikan bahwa teh tidak hanya dikonsumsi sebagai minuman sehari hari, tetapi juga telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat lintas generasi.

Kualitas Teh Terbaik Ditentukan oleh Sumbernya

Rasa dan aroma teh yang kita nikmati sangat bergantung pada cara pengolahannya yang unik. Menariknya, penentu kualitas teh sebetulnya dimulai jauh sebelum daun teh masuk ke mesin pabrik, yaitu saat daun muda masih berada di pohonnya. 

Faktor alam, cara merawat kebun, ketelitian saat memetik daun, sampai proses pengangkutan setelah panen adalah rantai penting yang akan menentukan seperti apa cita rasa akhir teh tersebut.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), faktor seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman teh serta profil rasa yang dihasilkan. 

Perkebunan di dataran tinggi dengan suhu lebih sejuk umumnya menghasilkan daun teh dengan pertumbuhan lebih lambat dan menghasilkan karakter dengan aroma yang lebih khas dan wangi.

Dalam industri teh, pertumbuhan yang lebih lambat justru dianggap ideal karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial. 

Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus. 

Kabut di kawasan pegunungan juga membantu menyaring paparan sinar matahari langsung, sehingga tanaman dapat berkembang lebih optimal tanpa menghasilkan sensasi yang terlalu tajam saat diminum.

Pemahaman terhadap proses alami tersebut menjadi salah satu fondasi yang harus para produsen teh yang memiliki perkebunan sendiri seperti Sosro. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Siaran Pers

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Hari Teh Internasional dan Kisah Panjang Budaya Minum Teh di Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!