Ilustrasi ayam taliwang. (Rasasayange)
INDOZONE.ID - Di Lombok, kuliner bukan sekadar soal rasa. Salah satu hidangan yang punya kisah panjang adalah ayam taliwang. Pedas, gurih, dan nikmat, ayam ini ternyata pernah menjadi bagian dari strategi diplomasi, bahkan membantu menjembatani konflik antara Lombok dan Bali pada abad ke-17. Dari dapur tradisional hingga meja makan modern, ayam taliwang kini menjadi ikon kuliner yang tak bisa dilewatkan wisatawan maupun warga lokal.
Kisah ayam taliwang bermula ketika sebagian masyarakat Bali mulai menetap di Lombok dengan dukungan Kerajaan Karangasem. Mereka mengirim pasukan Islam di bawah pimpinan Patih Arya Sudarsana untuk menjalin hubungan dengan Kerajaan Selaparang di Lombok Timur. Namun, kedatangan mereka menimbulkan ketegangan, terutama dari Suku Sasak yang juga beragama Islam, hingga konflik pun pecah.
Penelitian oleh Tanwir menyebutkan bahwa pertempuran ini memaksa pasukan Patih Arya Sudarsana mundur dan akhirnya bergabung dengan Kerajaan Pejanggik. Sementara itu, Kerajaan Selaparang mengirim pasukan Taliwang untuk menengahi konflik. Di sinilah peran makanan muncul: juru masak ikut serta membawa ayam pelalah manok, ayam kampung muda yang dibakar dengan bumbu pedas khas Sasak. Dari sinilah cikal bakal ayam taliwang lahir, mengubah dapur menjadi arena perdamaian.
Baca juga: Sambal Beberuk, Pasangan Tepat untuk Disantap Bersama Ayam Taliwang
Awalnya, ayam pelalah manok hanya muncul dalam upacara adat dan ritual keagamaan. Namun, tradisi ini perlahan menyebar ke kehidupan sehari-hari masyarakat Lombok. Nini Manawiyah, perempuan asal Karang Taliwang, menjadi pionir yang menjual ayam bakar ini lengkap dengan nasi dan beberuk, sayur khas Lombok dengan sambal pedas segar.
Hidangan yang dijual dari rumahnya maupun di Pasar Cakranegara ini langsung populer. Tak cuma warga biasa, tokoh-tokoh penting seperti Jenderal Ahmad Yani pun pernah mencicipinya. Popularitas ayam taliwang pun terus meningkat, dan kini warung-warung ayam taliwang bermunculan di hampir setiap sudut Lombok.
Ilustrasi ayam taliwang (freepik.com)
Ciri khas ayam taliwang terletak pada ayam kampung muda yang dibakar dengan bumbu pedas berbasis cabai, bawang, dan rempah khas Sasak. Teknik bakarnya unik, menggunakan bara api sehingga daging tetap juicy dan bumbu meresap sempurna. Ditambah dengan pelengkap seperti plecing kangkung, sayur rebus berpadu sambal pedas, kelapa parut, gula Jawa, dan taburan kacang goreng, sensasi rasa menjadi lengkap dan autentik.
Bukan hanya soal rasa, ayam taliwang juga menyimpan nilai kebersamaan dan harmoni. Hidangan ini menjadi simbol integrasi antara Suku Sasak, masyarakat Karang Taliwang, dan penduduk Kerajaan Karangasem pada masa lalu. Sekali dicicipi, ayam taliwang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga mengingatkan pada kisah damai yang lahir dari dapur dan rempah-rempah.
Baca juga: Ayam Taliwang Asli Lombok Timur: Kuliner Suku Sasak yang Pedasnya Bikin Nggak Mau Berhenti Makan!
Kini, ayam taliwang menjadi salah satu daya tarik kuliner utama Lombok. Wisatawan dari berbagai daerah datang untuk mencicipi sensasi pedas gurihnya. Beberapa restoran bahkan menambahkan sentuhan modern, seperti ayam taliwang crispy atau versi grilled, tetapi tetap mempertahankan rasa autentik.
Lebih dari sekadar makanan, ayam taliwang juga menjadi jembatan sejarah. Ia mengajarkan kita bahwa makanan bisa menyatukan, menciptakan perdamaian, dan merangkul budaya dalam satu piring.
Ayam taliwang lebih dari sekadar hidangan pedas nan gurih. Ia adalah potongan sejarah yang hidup, pengingat akan pentingnya perdamaian, kebersamaan, dan kekayaan budaya Lombok. Dari dapur tradisional hingga menjadi ikon kuliner, setiap suapan menyimpan cerita tentang keberanian, kreativitas, dan harmoni antarmasyarakat. Jadi, saat menikmati ayam taliwang, bukan hanya lidah yang dimanjakan, tetapi juga hati dan jiwa yang diajak menelusuri jejak sejarah penuh makna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesiakaya.com