Ilustrasi lontong dan ketupat. (AI/Gemini)
INDOZONE.ID - Suasana Lebaran di Indonesia rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran hidangan istimewa yang ditemani "nasi padat." Dua pilihan utama yang selalu memadati meja makan saat hari raya adalah lontong dan ketupat.
Meski sama-sama berbahan dasar beras yang dimasak hingga memadat, kedua ikon kuliner ini sejatinya memiliki karakteristik yang sangat berbeda.
Perbedaan keduanya pun mencakup aspek tekstur, rasa, bahkan nilai filosofis mendalam yang melekat kuat dalam tradisi masyarakat Nusantara. Seringkali masyarakat menganggapnya sama, padahal lontong dan ketupat menyimpan keunikannya masing-masing.
Bagi Anda yang masih sering tertukar atau penasaran mana yang lebih praktis untuk disajikan, mari kita bedah tuntas perbedaan mendasar antara lontong dan ketupat berikut ini.
Baca juga: 5 Kue Kering yang Wajib Ada di Rumah Pas Lebaran: Nomor 1 dan 2 Bersaing Jadi Primadona!
Secara visual, perbedaan antara keduanya sangat mencolok dari cara pengemasannya. Lontong identik dengan bentuk silinder panjang atau lonjong yang dibungkus menggunakan daun pisang, lalu dikunci rapat dengan sematan lidi atau biting di kedua ujungnya. Penggunaan daun pisang ini bukan sekadar pembungkus, karena pigmen alaminya akan meresap dan memberikan warna hijau tipis yang cantik pada permukaan nasi.
Sementara itu, ketupat tampil lebih artistik dengan anyaman rumit dari janur atau daun kelapa muda yang umumnya berbentuk jajaran genjang atau segi empat. Warna janur yang kuning gading memberikan sentuhan estetika ikonik yang selalu dinantikan di meja makan saat perayaan hari raya.
Proses pengolahan keduanya membutuhkan ketelatenan agar menghasilkan kematangan yang merata. Untuk membuat lontong, beras yang telah dicuci bersih dimasukkan ke dalam gulungan daun pisang, dengan menyisakan ruang sekitar sepertiga bagian agar beras memiliki tempat untuk mengembang saat matang. Gulungan ini kemudian direbus atau dikukus dalam posisi berdiri.
Di sisi lain, pembuatan ketupat melibatkan pengisian beras ke dalam rongga anyaman janur yang sudah siap pakai. Ketupat kemudian direbus di dalam panci besar berisi air mendidih hingga seluruh bagiannya terendam sempurna. Proses perebusan ini biasanya memakan waktu cukup lama, sekitar 4 hingga 5 jam, demi mendapatkan tekstur yang kenyal dan tanak maksimal.
Baca juga: Resep Mini Cheese Tart Lembut dan Lumer: Cocok untuk Ide Hampers Lebaran
Meskipun sama-sama berbahan dasar beras, pembungkus yang digunakan memberikan pengaruh besar pada sensasi rasa dan tekstur akhirnya. Ketupat cenderung memiliki karakteristik yang lebih padat, kenyal, dan kokoh karena anyaman janur yang rapat memberikan tekanan alami yang kuat saat beras mengembang di dalamnya.
Hal ini berbeda dengan lontong yang memiliki tekstur sedikit lebih lembut, halus, dan cenderung basah.
Dari segi rasa, lontong menawarkan aroma "hijau" yang segar dan khas dari daun pisang yang terkukus. Sementara itu, ketupat memiliki cita rasa yang lebih netral dengan selintas aroma khas daun kelapa muda yang muncul akibat proses perebusan yang sangat lama.
Ketupat bukan sekadar makanan, melainkan simbol budaya yang sarat makna, terutama di tanah Jawa. Sunan Kalijaga memperkenalkan ketupat sebagai sarana dakwah dengan istilah "Ngaku Lepat" (mengakui kesalahan) dan "Laku Papat" (empat tindakan: Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan