Ilustrasi nasi djinggo (Farouq El-Hassan/IDZ Creators)
INDOZONE.ID - Kalau kamu ke Bali dan cuma cari babi guling atau ayam betutu, coba deh melipir ke pinggir jalan di Denpasar saat malam hari.
Di antara riuhnya lampu kota dan aroma dupa, ada satu makanan legendaris yang bikin perut kenyang tanpa bikin dompet kempes: nasi jinggo.
Makanan ini bukan sekadar camilan malam. Nasi jinggo sudah jadi bagian dari denyut kehidupan warga lokal.
Disajikan dalam bungkus daun pisang, porsinya memang mungil, tapi rasa dan pesonanya nggak main-main.
Apalagi kalau dimakan saat masih hangat, langsung dari gerobak sederhana yang berjejer di trotoar. Sensasinya beda!
Baca juga: Nasi Campur Bali ala Chef Mangku, Resep Tradisional yang Penuh Cerita
Nama nasi jinggo ternyata punya cerita unik. Dulu, satu bungkus nasi ini hanya dijual seharga Rp1.500—saat itu setara dengan seribu lima ratus rupiah atau dalam istilah orang Bali disebut “jeng go.”
Dari situlah lahir sebutan “jinggo”. Meski sekarang harganya naik jadi sekitar Rp5.000–Rp10.000, tetap saja nasi ini termasuk salah satu kuliner termurah di Bali.
Yang bikin beda, meskipun murah, nasi jinggo tetap digarap serius. Bahkan kamu bisa nemuin versi pedas, manis, hingga yang super gurih dengan pilihan lauk yang makin beragam.
Baca juga: Gohu Ikan: Sashimi ala Ternate yang Segar, Pedas, dan Bikin Nagih!
Satu bungkus nasi jinggo biasanya berisi:
Kadang juga dilengkapi dengan tempe kering, telur, atau kulit ayam goreng sebagai pelengkap yang menambah cita rasa dan tekstur
Yang paling bikin nagih adalah sambalnya. Pedasnya menyengat, tapi tetap bikin susah berhenti ngunyah.
Kombinasi antara nasi pulen, ayam berbumbu, dan mi goreng yang sedikit manis jadi harmoni rasa yang khas banget.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tale Travels