Pasar Beringharjo Jogja (sumber: graphicdesignerjournal)
INDOZONE.ID - Kalau kamu liburan ke Yogyakarta dan hanya sempat jalan-jalan di Malioboro tanpa menjelajahi sisi lain kota ini, kamu benar-benar melewatkan banyak hal berharga.
Tepat di ujung selatan Jalan Malioboro, berdiri megah sebuah tempat yang lebih dari sekadar pasar, namanya Pasar Beringharjo. Dari luar memang terlihat seperti pasar tradisional biasa, tapi begitu kamu masuk, aromanya langsung mengajak kamu 'pulang' ke masa kecil. Di sinilah rindu akan jajanan tempo dulu bisa terobati.
Bukan cuma jadi pusat perbelanjaan batik dan oleh-oleh khas Jogja, Pasar Beringharjo juga menyimpan kekayaan kuliner yang bisa membuat lidah bergetar. Bahkan, banyak dari makanan di sini yang mulai langka ditemui di kota besar. Kalau kamu tipe yang suka nostalgia lewat rasa, bersiaplah tersihir saat mencicipi satu per satu jajanan di dalam pasar ini.
Begitu kaki melangkah ke area dalam pasar, bau rempah, kencur, minyak goreng panas, hingga aroma manis dari gula jawa bercampur jadi satu. Inilah "wewangian" khas pasar tradisional yang sulit ditemukan di mal atau food court modern.
Di sela-sela lorong pasar yang padat, banyak penjual kaki lima maupun kios kecil yang menjajakan jajanan jadul dengan tampilan sederhana namun menggoda. Mulai dari gethuk lindri warna-warni, tiwul legit, hingga jipang yang renyah. Semua tersaji tanpa kemasan mewah, tapi berhasil membangkitkan kenangan masa kecil, ketika jajan seribu bisa dapat banyak.
Bahkan, kamu masih bisa menemukan jajanan lawas seperti kue semprong, geplak, cenil, hingga carang gesing, kudapan tradisional yang kini mulai langka di banyak tempat.
Baca juga: Alasan Kenapa Makanan Jawa dan Jogja Cenderung Manis, Jadi Simbol Kehidupan?
Salah satu hal yang membuat jajanan di Pasar Beringharjo tetap diburu banyak orang adalah harganya yang merakyat. Dengan modal Rp5.000 hingga Rp15.000, kamu bisa membawa pulang aneka jajanan khas yang cukup untuk satu keluarga.
Penjualnya pun rata-rata masih mempertahankan cara penyajian dan resep lama, tanpa bahan pengawet, tanpa gimmick, dan pastinya penuh rasa.
Tak sedikit yang datang ke sini hanya untuk ‘berburu rasa lama’. Meski jajanan modern menjamur di mana-mana, jajanan tradisional seperti ini tetap punya tempat di hati para pecintanya. Bahkan, banyak wisatawan luar kota yang sengaja mampir ke pasar ini sebelum pulang hanya untuk memborong jajanan nostalgia.
Jajanan Pasar Beringharjo (sumber: graphicdesignerjournal)
Menjelajah kuliner di Pasar Beringharjo bukan cuma soal rasa. Setiap gigitan menyimpan cerita, setiap lapak punya sejarah. Misalnya geplak, yang dulunya jadi simbol keramahtamahan warga Jogja karena disajikan saat ada tamu penting. Atau cenil, yang awalnya makanan rakyat kecil karena berbahan dasar singkong dan sagu.
Pasar ini juga masih mempertahankan gaya transaksi yang sangat khas: tawar-menawar. Meski kamu datang hanya untuk beli jajanan, suasana khas pasar yang ramai, suara ibu-ibu menawar harga, dan obrolan penjual yang ceplas-ceplos bikin suasana makin hidup.
Nggak perlu repot cari alamat. Pasar Beringharjo ada di jantung kota Yogyakarta, tepat di Jalan Malioboro. Kalau kamu berjalan kaki dari Stasiun Tugu atau sekitar Malioboro, cukup 10–15 menit saja untuk sampai ke lokasi, dekat dan praktis banget buat dijelajahi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Idetrips.com