Nasi Jaha dari Sulawesi Utara (sumber: Taste Atlas)
INDOZONE.ID - Nusantara punya sejuta rasa. Tapi kalau kamu belum pernah mencicipi nasi jaha dari Sulawesi Utara, siap-siap menyesal. Makanan tradisional ini bukan sekadar nasi, tapi perpaduan cita rasa gurih, aroma rempah, dan teknik memasak khas yang unik, dibakar langsung dalam bambu. Aromanya menggoda, teksturnya lembut, dan sekali makan bisa bikin ketagihan.
Nasi jaha merupakan kuliner tradisional khas masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara. Terbuat dari campuran beras ketan dan santan yang dibumbui dengan jahe serta sedikit garam, nasi ini dimasak dalam bambu hingga matang sempurna. Proses tersebut menghasilkan cita rasa yang kaya dan aroma harum yang khas, menjadikannya sajian tradisional yang menggoda selera.
Sekilas mirip dengan lemang dari Sumatera, tapi jangan salah, nasi jaha punya karakter dan rasa yang berbeda. Adonannya dimasukkan ke dalam ruas bambu yang telah dilapisi daun pisang, lalu dibakar perlahan di atas bara api selama beberapa jam. Proses ini memungkinkan nasi benar-benar menyerap aroma alami dari bambu dan daun pisang, menciptakan wangi khas dan tekstur legit nan lembut, jadi keistimewaan utama dari nasi jaha yang sulit ditandingi.
Wajar kalau makanan ini jadi favorit di berbagai acara penting dan upacara adat di Minahasa.
Baca juga: Resep Ikan Woku Belanga, Masakan Manado yang Harumnya Bikin Lapar!
Keistimewaan nasi jaha terletak pada proses memasaknya yang tetap setia pada metode tradisional, mengandalkan bambu dan bara api tanpa bantuan teknologi modern. Cara ini membuat cita rasanya tetap autentik, dengan aroma khas yang sulit ditiru oleh metode masak biasa.
Alih-alih dimasak dengan rice cooker, nasi jaha justru dibakar dalam ruas bambu dengan metode turun-temurun. Proses ini bukan hanya tentang memasak, tapi juga soal ritual dan kesabaran. Api harus dijaga stabil agar nasi tidak gosong dan matang merata.
Biasanya, masyarakat menyiapkan nasi jaha saat ada acara besar seperti pernikahan, Natal, atau Tahun Baru. Tapi kini, kamu juga bisa menemukannya di pasar tradisional atau festival kuliner khas Sulut. Bahkan beberapa penjual kaki lima di Manado dan sekitarnya sudah mulai menjajakan nasi jaha sebagai camilan sore atau oleh-oleh.
Ilustrasi nasi jaha (instagram.com/@goarchie)
Meski bisa dimakan langsung karena rasanya sudah gurih, nasi jaha akan semakin nikmat kalau disajikan dengan lauk khas Sulut seperti ikan cakalang fufu, dabu-dabu, atau ayam rica-rica. Gurihnya ketan dari nasi jaha yang menyatu dengan pedas khas lauk Manado menciptakan perpaduan rasa yang eksplosif, setiap suapan menghadirkan kehangatan, kedalaman rasa, dan sensasi yang memanjakan lidah.
Teksturnya yang kenyal dan aromanya yang menggoda bikin makanan ini sering kali jadi rebutan di meja makan. Bahkan banyak yang rela antre lama hanya untuk mendapatkan nasi jaha dari bambu yang baru dibuka karena aromanya benar-benar menghipnotis.
Kalau kamu berencana liburan ke Manado, wajib banget cari nasi jaha di pasar tradisional seperti Pasar Bersehati atau kawasan Tomohon. Ada juga beberapa kafe dan restoran lokal yang menyajikannya dalam versi modern, tapi tetap mempertahankan metode memasak bambunya.
Buat yang tinggal di luar Sulut, beberapa toko oleh-oleh khas Manado kini sudah menjual nasi jaha dalam kemasan. Meski begitu, sensasinya tentu berbeda dibanding nasi jaha yang dibakar langsung dari bambu.
Nasi jaha bukan cuma soal rasa. Ini adalah simbol kebersamaan dan warisan budaya. Di balik kelezatannya, ada nilai tradisi, kerja keras, dan kearifan lokal yang patut dihargai. Ketika nasi jaha dimasak dalam jumlah besar, itu bukan sekadar kegiatan dapur, melainkan pertanda ada perayaan, kebahagiaan, dan kebersamaan yang sedang dibagikan.
Kuliner tradisional seperti ini adalah bukti bahwa di tengah laju modernisasi, rasa lokal tetap punya tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat. Dan nasi jaha adalah salah satu contohnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Taste Atlas