INDOZONE - Sudahi murungmu, sobat Bekasi dan sekitarnya. Ada tempat yang bisa bikin hatimu tenang di tengah masalah yang melanda. Namanya Gedung Juang 45.
Lokasinya berada di Jalan Sultan Hasanudin, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Dekat dengan Stasiun Tambun. Kalau jalan dari stasiun Tambun sekitar lima menitan.
Di balik gedung tua ini, ada cerita yang bikin kamu merasa kayak bangsawan era kolonial, meskipun saldo rekening kamu cuma lingkaran berderet.
Aku akan ceritakan sedikit sejarah Gedung Juang 45.
Baca Juga: Curug Air Panas: Wisata Ekstrim Hidden Gem di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, seorang tuan tanah bernama Khouw Tjeng Kie membangun rumah bertingkat dua. Konon, dari cerita yang beredar, Khouw Tjeng Kie memiliki ladang tebu yang membentang luas di Tambun.
Jadi banyangin aja, pagi-pagi bangun, buka jendela kamar lantai dua, yang kelihatan cuma hamparan ladang tebu. Angin bertiup sepoi ditemani secangkir kopi hitam dan rokok kretek. Seolah-olah hidup ini semanis gula. Hidup kayak nggak ada beban.
Warga lokal lebih suka nyebutnya Gedung Tinggi. Mungkin karena, ya, bangunannya tinggi banget buat ukuran zaman dulu.
Baca Juga: Destinasi Favorit Wisatawan Indonesia di Luar Negeri, dari Malaysia hingga Korea Selatan
Berdiri di balkon aja udah cukup bikin lo merasa jadi orang penting, kayak karakter di film bertema kemerdekaan, lengkap dengan seragam ala pejabat kolonial.
Sarang Kampret, Bukan Makian!
Sebelum direnovasi, Gedung Juang 45 ini sarangnya kampret! Serius, bukan kampret sebagai makian, tapi beneran kampret alias kelelawar.
Tiap sore, ada ratusan, mungkin ribuan kampret keluar beterbangan dari gedung, kayak adegan film horor atau mirip gua sarang Batman.
Mungkin ada yang mikir, apa kampret-kampret ini dulu bagian dari pasukan rahasia? Mereka menjaga gedung biar tetap horor, biar nggak sembarang orang masuk. Siapa tahu kan? Apalagi suasananya serem kayak gitu, cukup bikin nyali ciut.
Dari Horor Jadi Hits
Waktu pun bergulir, dan Gedung Juang 45 akhirnya selesai direnovasi pada 2021. Sekarang nggak ada lagi kampret-kampret gentayangan.
Gedung ini tampil lebih segar, lebih modern, tapi masih nyimpan nuansa klasik. Lampu-lampu sorot menyinari setiap sudut gedung, bikin suasana jadi romantis banget saat malam hari.
Cerita horor masa lalu hilang berganti dengan keceriaan. Gedung ini siap jadi tempat eksis buat kamu yang doyan foto-foto cantik di Instagram atau joget-joget biatr fyp di TikTok.
Masuk ke dalam gedung, suasana telah diubah menjadi museum digital sejarah Kabupaten Bekasi.
Kamu bisa liat-liat koleksi foto dan barang-barang peninggalan sejarah. Sambil ngeliatin pajangan, kamu bisa pura-pura ngerti sejarah dan cerita ke temen soal betapa pentingnya gedung ini bagi perjuangan rakyat Bekasi. Padahal dalam hati, kamu cuma mikir update Instagram Story.
Kolam Mungil, Penghilang Penat
Satu lagi yang bikin Gedung Juang 45 ini jadi tempat hits adalah kolam kecil dan air mancur di bagian luar gedung.
Airnya bening, dikepung pepohonan membuat suasana menjadi sejuk, bikin betah duduk berlama-lama.
Sambil ngeliatin ikan-ikan kecil berenang bebas, tiba-tiba semua masalah hidup berasa hilang.
Baca Juga: Peninggalan Sejarah dan Budaya Maluku di Museum Siwalima
Rasa penat karena kerjaan numpuk atau tugas kuliah yang nggak selesai-selesai, semua lenyap seketika. Kolam ini udah kayak tempat meditasi gratis buat warga Bekasi. Sederhana sih, tapi bikin hati adem.
Yth warga Bekasi dan sekitarnya, kalau kamu lagi galau, pusing, atau cuma pengen cari ketenangan, Gedung Juang bisa jadi alternatif solusi.
Siapa tahu, hatimu yang galau bisa tenang, dan kamu bisa ketemu inspirasi baru. Seperti bunyi lirik lagu "Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan"dari BerBernadya.
Ada waktu-waktu
Hal buruk datang berturut-turut
Semua yang tinggal, juga yang hilang
Seberapa pun absurdnya pasti ada makna
Untungnya, bumi masih berputar
Untungnya, ku tak pilih menyerah
Itu memang paling mudah
Untungnya, kupilih yang lebih susah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan