Sabtu, 11 JULI 2026 • 19:01 WIB

Bikin Jiper Duluan! Ini 5 Mitos Solo Traveling yang Masih Sering Jadi Perdebatan

Author

Ilustrasi solo traveling. (Freepik)

INDOZONE.ID - Tren solo traveling di kalangan anak muda dan Gen Z belakangan ini makin masif banget. Berkelana sendirian ke kota atau negara asing emang menawarkan sensasi kebebasan hakiki yang bikin candu. 

Akan tetapi, di balik keseruannya, dunia solo traveling gak pernah lepas dari berbagai mitos yang sering memicu perdebatan di forum-forum backpacker.

Anehnya, meski zaman udah serbadigital dan taktis, mitos-mitos ini masih kokoh dipercaya oleh banyak orang, terutama mereka yang baru mau memulai perjalanan pertamanya.

Yuk, kita demistifikasi 5 mitos solo traveling yang paling sering diperdebatkan beserta alasan psikologis di baliknya!

Baca juga: 4 Tren Wisata Terkini yang Lagi Diburu Traveler, dari Wellness Retreat hingga Solo Travel

1. Solo Traveling Itu Berarti Kamu Beneran "Sendirian" Sepanjang Waktu

Ilustrasi solo traveler. (Freepik/yanalya)

Banyak yang mengira kalau solo traveling itu adalah perjalanan sepi, di mana kamu bakal makan, jalan, dan ngomong sama diri sendiri dari hari pertama sampai pulang.

Secara harfiah, kata "solo" berarti sendiri. Otak kita secara otomatis mengasosiasikan hal tersebut dengan isolasi sosial. Selain itu, konten-konten estetik di media sosial sering kali mengekspos foto satu orang di tengah lanskap alam yang luas, memperkuat narasi kalau mereka bener-bener "terasing" tanpa interaksi.

Padahal faktanya, justru pas jalan-jalan sendirian kamu bakal jauh lebih mudah dapet kenalan baru di berbagai destinasi.

Mulai dari sesama traveler di shared-room hostel, obrolan santai sama warga lokal di warung kopi, sampai ikutan free walking tour. Kamu cuma sendiri pas lagi perpindahan transportasi aja, selebihnya? Ramai!

Baca juga: Mau Liburan Sendirian? Ini 10 Kota Terbaik untuk Solo Traveling di Dunia

2. Destinasi Solo Traveling Itu Jauh Lebih Mahal Dibanding Liburan Bareng

Ilustrasi solo traveling. (Unsplash/Joshua Earle)

Jalan sendirian dicap bikin kantong jebol karena semua biaya akomodasi, sewa kendaraan, hingga makan gak bisa dibagi rata (split bill). Semua sebenernya bergantung pada logika matematika dasar. 

Ketika hotel atau taksi online yang biasanya dibagi berempat harus ditanggung satu orang, pengeluaran terasa membengkak. Hal ini bikin para pemula jiper duluan sebelum menghitung bujet secara taktis.

Faktanya solo traveler mempunyai kendali penuh 100% atas pengeluaran mereka tanpa perlu berkompromi. 

Kamu bebas milih tidur di capsule hotel yang murah, makan di street food pinggir jalan tanpa gengsi, atau jalan kaki demi hemat ongkos tanpa perlu denger keluhan dari temen satu circle.

3. Hanya Orang-Orang Ekstrovert yang Cocok Jadi Solo Traveler

Ilustrasi seseorang yang tengah melakukan kegiatan solo traveling. (Foto: Pixabay)

Kamu harus jadi orang yang jago socializing, supel, dan berani memulai obrolan dengan orang asing kalau mau survive jalan-jalan sendirian.

Terlebih ada stigma bahwa untuk bertahan di tempat baru, kita harus terus-menerus bertanya atau berinteraksi. Melihat para vlogger yang tampak luwes ngobrol dengan siapa saja membuat kaum introvert merasa solo traveling bukan ranah mereka.

Fakta yang terjadi justru olo traveling adalah surga bagi para introvert. Ini adalah momen terbaik untuk melakukan nature-therapy atau me-time tanpa tekanan sosial. 

Lagipula, di era digital sekarang, urusan pesan tiket, cari rute jalan, hingga check-in penginapan semua bisa dilakukan via aplikasi tanpa harus banyak bicara.

4. Solo Traveling Itu Selalu Berbahaya dan Gak Aman

Ilustrasi solo traveling. (Freepik)

Berada di tempat asing sendirian tanpa sistem pendukung (support system) langsung menjadikan kamu target empuk kejahatan atau penipuan (scam).

Berita media massa dan wejangan protektif dari orang tua sering kali berfokus pada skenario terburuk. Ketakutan akan ketidaktahuan membuat insting bertahan hidup kita mengasumsikan bahwa lingkungan luar selalu mengancam jika kita tidak berkluster dalam grup.

Faktanya adalah bahaya bisa terjadi di mana saja, bahkan di kota asal kita sekalipun. Kuncinya ada pada riset yang taktis sebelum berangkat, memahami kultur lokal, tidak memamerkan barang mewah secara mencolok, serta selalu mengandalkan street smarts. 

Padahal yang terjadi di lapangan banyak kok destinasi yang ramah dan aman banget buat solo traveler.

5. Kamu Harus Punya Skill Navigasi Tingkat Dewa dan Jago Bahasa Lokal

Ilustrasi solo traveling. (Freepik)

Kalau gak tahu arah mata angin atau gak lancar bahasa daerah/negara tujuan, kamu bakal langsung tersesat dan telantar.

Membayangkan diri tersesat di stasiun kereta asing tanpa tahu cara membaca papan penunjuk jalan adalah mimpi buruk psikologis bagi semua orang. Memori masa kecil tentang "tersesat di mal" membuat mitos ini terus membayangi.

Faktanya di tahun 2026 ini teknologi udah terlalu canggih untuk membuat kamu telantar. Google Maps, Google Translate yang bisa menerjemahkan teks lewat kamera secara real-time, hingga aplikasi transportasi lokal sudah lebih dari cukup untuk memandu perjalananmu. 

Tersesat dikit? Anggap saja itu bonus petualangan untuk nemu hidden gem baru!

Mematahkan mitos-mitos di atas menyadarkan kita bahwa hambatan terbesar dari solo traveling sebenarnya bukan berada di dunia luar, melainkan ada di dalam pikiran kita sendiri. 

Jadi, gak usah kebanyakan dengerin debat kusir yang gak taktis. Kemas ranselmu, siapkan itinerary, dan mulailah petualangan solomu sekarang!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU