Berdiri Sejak 1600-an, Gereja Tertua di Jakarta Ini Simpan Cerita yang Bikin Wisatawan Merinding
INDOZONE.ID - Jakarta bukan cuma soal gedung pencakar langit dan kemacetan. Di balik hiruk-pikuk ibu kota, ada satu bangunan tua yang diam-diam menyimpan cerita panjang selama ratusan tahun — namanya Gereja Sion.
Bukan sekadar tempat ibadah biasa, gereja ini jadi saksi hidup perjalanan Batavia dari era kolonial sampai jadi Jakarta seperti sekarang. Usianya? Sudah lebih dari tiga abad!
Dari Gereja Portugis ke Ikon Bersejarah Jakarta
Sejarah Gereja Sion dimulai pada tahun 1692, ketika Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membangun sebuah gereja bernama De Nieuwe Portugese Buitenkerk. Gereja ini hadir sebagai pengganti bangunan lama yang hangus terbakar di dalam tembok Batavia.
Baca juga: Bedah Dua Stasiun Utama Yogyakarta: Mana yang Paling Dekat ke Malioboro?
Awalnya, gereja ini digunakan oleh komunitas Mardijkers — kelompok bekas tawanan Portugis yang kemudian menetap di Batavia. Ibadah pertama dipimpin oleh Theodarus Zas dengan bahasa Belanda, menunjukkan kuatnya pengaruh kolonial saat itu.
Namun perjalanan gereja ini nggak selalu mulus. Saat masa pendudukan Pendudukan Jepang di Indonesia, aktivitas ibadah sempat berhenti total. Baru pada 1946, gereja ini kembali difungsikan oleh pendeta asal Inggris.
Nama “Gereja Sion” sendiri baru resmi dipakai pada 1951, lalu pada 1965 menjadi bagian dari Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Jemaat Sion.
Arsitektur Klasik yang Masih Bertahan
Kalau dilihat sekilas, bangunan Gereja Sion memang terlihat sederhana. Tapi justru di situlah daya tariknya. Strukturnya berbentuk persegi dengan tambahan ruang memanjang, menghadap ke Utara.
Baca juga: Ngapain Sewa Hotel Mahal? 4 Penginapan di Anyer Ini Punya View Pantai yang Sama Cantiknya!
Gaya arsitekturnya unik — perpaduan interior barok dengan sentuhan klasik Romawi di bagian luar.
Masuk ke dalam, nuansa “jadul” langsung terasa. Mulai dari mimbar, balkon, sampai kursi-kursi kayu berukir yang sudah ada sejak Abad ke-17. Bahkan, ada orgel tua di balkon yang sampai sekarang masih bisa digunakan!
Detail lain yang nggak kalah menarik:
- Jendela besar yang bikin pencahayaan alami terasa dramatis
- Lantai dari batu andesit yang dingin dan kokoh
- Atap berbentuk trapesium yang khas bangunan lama
- Semua elemen ini masih dipertahankan, seolah membawa pengunjung “balik ke masa lalu”.
Baca juga: Kabur dari Keramaian: 4 Pantai Hidden Gem di Anyer yang Masih Sepi Pengunjung
Ada Makam Tokoh Penting di Halamannya
Nggak cuma bangunannya, area sekitar gereja juga menyimpan cerita sejarah. Di sisi barat, terdapat kompleks pemakaman tokoh-tokoh penting era kolonial.
Salah satunya adalah Hendrick Zwaardecroon, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dikenal berjasa dalam pengembangan tanaman kopi di Batavia.
Selain itu, di serambi Utara terdapat lonceng tua dari tahun 1675 — lebih tua dari bangunan gerejanya sendiri! Lonceng ini masih terpasang hingga sekarang dan jadi salah satu peninggalan paling berharga di lokasi tersebut.
Baca juga: Festival Balon Udara Sumberdalem 2026 Meriah, Langit Wonosobo Penuh Warna
Bukan Sekadar Gereja, Tapi Warisan Berharga
Dengan usia yang sudah melewati empat abad perjalanan sejarah, Gereja Sion kini ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi pemerintah.
Di tengah modernisasi Jakarta yang terus melaju, keberadaan gereja ini jadi pengingat bahwa kota ini punya akar sejarah yang panjang dan kaya.
Buat kamu yang bosan dengan wisata itu-itu saja, Gereja Sion bisa jadi pilihan menarik. Bukan cuma foto-foto estetik, tapi juga pengalaman menyentuh langsung jejak masa lalu yang masih berdiri kokoh hingga hari ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Traveloka