Kamis, 24 JULI 2025 • 15:05 WIB

Mampir ke Desa Penglipuran, Menikmati Nasi Campur Tradisional di Kampung Paling Bersih di Indonesia

Author

Nasi campur Bali (Z Creators/Dada Sabra Sathilla)

INDOZONE.ID - Kalau bicara Bali, biasanya yang langsung terbayang adalah pantai Kuta, Ubud, atau Pura Besakih. 

Tapi tunggu dulu, ada satu tempat yang diam-diam menyimpan keajaiban — bukan cuma karena suasananya yang sejuk dan asri, tapi juga karena kulinernya yang menggugah selera. 

Desa Penglipuran, sebuah desa adat di Kabupaten Bangli, Bali, menawarkan pengalaman kuliner dan budaya yang jarang ditemukan di tempat lain.

Terkenal sebagai salah satu desa paling bersih di dunia, Desa Penglipuran bukan hanya memanjakan mata, tapi juga lidah. 

Di tengah barisan rumah tradisional Bali yang simetris dan jalanan tanpa sampah, pengunjung bisa menemukan sajian autentik nasi campur Bali yang dimasak langsung oleh warga lokal dengan resep turun-temurun.

Baca juga: Gak Cuma Raja Ampat! Teluk Wondama Punya Pesona Tersembunyi yang Bikin Takjub

Desa yang Tak Sekadar Bersih

Desa Penglipuran mendapat banyak perhatian dunia karena kebersihannya yang konsisten dan struktur desa yang rapi. 

Desa ini bahkan sering masuk dalam deretan desa paling bersih di dunia, sejajar dengan Giethoorn di Belanda dan Mawlynnong di India. 

Rumah-rumah di Penglipuran dibangun sejajar dengan gerbang batu khas Bali, dan seluruh penduduknya sepakat menjaga tradisi — termasuk melarang kendaraan bermotor masuk area utama desa.

Udara di sini segar, bebas polusi, dan yang paling menarik: tidak ada satu pun sampah plastik yang berserakan. 

Saking bersih dan tertibnya, wisatawan sering mengira desa ini hanya disiapkan untuk pameran. Padahal, ini adalah rutinitas sehari-hari warga setempat.

Baca juga: 3 Rekomendasi Spa Murah sampai Estetik buat Me-Time Maksimal di Sidoarjo

Nasi Campur Bali yang Ngangenin

Berjalan-jalan di desa ini nggak lengkap tanpa mencoba nasi campur tradisional Bali. 

Bedanya dengan nasi campur daerah lain, nasi campur Bali punya karakteristik rempah yang lebih berani. 

Sajian ini biasanya terdiri dari nasi putih hangat, lawar (sayur berbumbu khas Bali), sate lilit, ayam betutu, telur pindang, dan sambal matah yang pedas segar.

Uniknya, di Desa Penglipuran, semua bahan yang digunakan berasal dari kebun warga sendiri. 

Mulai dari ayam, sayur-mayur, sampai bumbu seperti lengkuas dan daun jeruk dipetik dari kebun lokal. Tanpa pengawet, tanpa proses pabrikan.

Beberapa warung kecil di depan rumah penduduk menjajakan nasi campur ini. Harganya pun bersahabat — mulai dari Rp15.000 hingga Rp25.000 saja. Rasanya? Autentik, kaya rasa, dan bikin ketagihan.

Baca juga: 7 Rekomendasi Cafe di Medan yang Murah, Nongkrong Asyik Kantong Aman

Kenapa Wajib Dicoba?

Kalau Kamu ingin merasakan nuansa “back to nature” tapi tetap kenyang dan hati senang, menyantap nasi campur di Desa Penglipuran adalah pilihan yang tepat banget. 

Kamu bisa menyantap makanan di bawah rindangnya pohon bambu, sambil mendengar suara gamelan sayup-sayup dari pura setempat.

Makanan di sini juga aman untuk wisatawan mancanegara karena dibuat dengan standar kebersihan yang tinggi. 

Bahkan, nggak sedikit yang bilang kalau nasi campur racikan ibu-ibu di Penglipuran rasanya jauh mengungguli hidangan di restoran mahal yang ada di pusat kota Bali.

Baca juga: Unik, Hotel Ini Bisa Wujudkan Pernikahan Impian dengan Kapal Pesiar Ikonik di Tengah Kota

Akses Mudah, Suasana Damai

Desa Penglipuran berjarak sekitar 45 menit dari pusat Ubud dan bisa dicapai dalam waktu sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Denpasar. 

Akses menuju desa ini sangat mudah, dengan jalan beraspal mulus dan petunjuk arah yang jelas. 

Wisatawan bisa datang menggunakan mobil pribadi, motor, atau ikut paket tur harian.

Sesampainya di desa, pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sekitar Rp15.000 untuk dewasa dan Rp10.000 untuk anak-anak. 

Selain menikmati pemandangan dan kuliner, Kamu juga bisa berinteraksi dengan warga lokal yang ramah, melihat proses pembuatan kerajinan tangan, hingga berfoto di depan pura dan gerbang-gerbang batu yang ikonik.

Baca juga: 5 Camping Ground di Sentul Cocok Buat Liburan Keluarga Gen Z

Catat Ini Sebelum Datang!

  1. Datang pagi hari agar bisa melihat aktivitas warga yang masih alami dan menikmati nasi campur selagi hangat.
  2. Hormati budaya lokal, jangan buang sampah sembarangan, dan kenakan pakaian sopan saat menjelajahi desa.
  3. Bawa uang tunai secukupnya, karena sebagian besar warung tidak menerima pembayaran digital.

Desa Penglipuran bukan cuma sekadar destinasi wisata — ia adalah pelajaran hidup tentang kebersihan, harmoni, dan cinta terhadap warisan budaya. 

Dan lewat sepiring nasi campur, semua nilai itu tersampaikan dengan cara yang paling sederhana: lewat rasa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Dansartain.com, Oursbali.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU