INDOZONE.ID - Gedung Agung Yogyakarta dapat memikat wisatawan. Karena tempat ini gak cuma situs sejarah, tapi bisa jadi tempat eksplorasi untuk pameran seni sampai jadi ruang kreatif lain.
Gedung Agung berada di pusat Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Ngupasan, Gondoman. Dibangun tahun 1824, gedung ini pernah menjadi kediaman Presiden Soekarno saat Yogyakarta menjadi ibu kota sementara (1946–1949).
Istana Kepresidenan Yogyakarta bermula dari rumah kediaman resmi seorang Residen Ke-18 di Yogyakarta (1823-1825). Ia seorang Belanda bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus merupakan penggagas pembangunan Gedung Agung ini.
Gedung itu didirikan pada Mei 1824 di masa penjajahan Belanda, dengan arsiteknya bernama A Payen. Dia ditunjuk oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk membangun gedung dengan gaya bangunan mengikuti arsitektur Eropa yang disesuaikan pada iklim tropis.
Pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830), yang oleh Belanda disebut Perang Jawa, mengakibatkan pembangunan gedung ini tertunda. Pembangunan kembali dilanjutkan setelah perang itu usai (1832). Pada tanggal 10 Juni 1867, di Yogyakarta, terjadi musibah gempa bumi dua kali pada hari yang sama.
Salah satu akibatnya, tempat kediaman resmi Residen Belanda itu runtuh dan rumah itu ambruk. Bangunan baru pun lantas didirikan dan rampung pada tahun 1869. Bangunan inilah yang menjadi Gedung Induk Kompleks Istana Kepresidenan Yogyakarta yang sekarang disebut Gedung Negara.
Gedung Agung juga telah menyambut lebih dari 65 kepala negara, termasuk Ratu Elizabeth II dan Pangeran Charles. Banyak momen penting lainnya yang sudah diabadikan di gedung ini.
Baca juga: 7 Kereta Terbaik dari Jakarta ke Yogyakarta untuk Liburan Sekolah, Harga Tiket Rp200 Ribuan
Gak Cuma Situs Sejarah
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar menggali potensi kolaborasi antara seni, budaya, dan ekonomi kreatif di ruang-ruang bersejarah dalam kunjungannya ke Istana Kepresidenan Yogyakarta, yang juga dikenal dengan Gedung Agung.
"Gedung Agung bukan hanya situs sejarah, tapi juga ruang publik yang hidup. Kita bisa manfaatkan tempat ini sebagai panggung diplomasi budaya, pameran seni, residensi kreatif, atau laboratorium edukasi lintas generasi.,” kata Irene dikutip ANTARA.
Wamen Ekraf Irene, menyebut kunjungan ini sebagai langkah konkret dalam mendorong aktivasi ruang publik berbasis nilai lokal dan warisan budaya untuk mendukung ekosistem ekonomi kreatif yang lebih inklusif.
Irene juga berdiskusi bersama pengelola istana, membahas peluang aktivasi ruang yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga fungsional untuk memperkuat narasi budaya Indonesia ke publik. Sebagai salah satu dari tujuh istana kepresidenan dan cagar budaya nasional, Gedung Agung memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia.
Baca juga: WALHI Yogyakarta Desak Pemulihan Pantai Pandansari: Kawal Pembongkaran TPS Liar
Menjajaki Setiap Ruangan Gedung Agung
Bersama Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta Deni Mulyana, Irene menjajaki kemungkinan kolaborasi ke depan mulai dari program residensi seni, aktivasi konten edukatif berbasis museum, hingga penguatan diplomasi budaya melalui karya-karya kreatif berbasis nilai lokal.
Kunjungan ini juga dihadiri Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto yang turut memberikan pandangannya.
“Kita bisa menghidupkan kembali ruang-ruang bersejarah lewat pendekatan kreatif yang relevan dengan zaman. Perpaduan seni, musik, dan teknologi bisa menjadikan tempat seperti Gedung Agung bukan hanya monumen masa lalu, tapi juga simbol inspirasi lintas generasi,” ujar Yovie.
Selama kunjungan, Wamen Ekraf Irene dan rombongan menelusuri area museum, menyaksikan langsung koleksi seni dari maestro Indonesia seperti Affandi, Soedjojono, dan Basuki Abdullah, serta arsip foto-foto bersejarah kepresidenan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA, Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif