INDOZONE.ID - Savana Jaya merupakan tempat bersejarah di timur Indonesia yang dikenal dengan desa tahanan politik (tapol) atau pengasingan. Desa ini tidak bisa ditempuh hanya dengan via daratan dari Jakarta.
Indozone bersama tim Dompet Dhuafa dalam perjalanan jelang perayaan idul adha sempat mengunjungi Desa Savana Jaya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku pada Selasa, 26 Mei 2026 setelah sebelumnya tiba dari Jakarta Sejak 25 Mei satu hari sebelumnya.
Perjalanan menuju Desa ini tidaklah mudah seperti halnya perjalanan menuju wilayah di pulau-pulau Jawa. Tim harus lebih dulu melalui jalur udara via Bandara Soekarno Hatta menuju Maluku via Bandara Pattimura, Maluku.
Dari Bandara Pattimura, perjalanan dilanjutkan bisa melalui kapal hingga memakan waktu sampai 8 jam lamanya. Dalam perjalanan kali ini, tim bisa memangkas waktu lebih cepat hanya dalam waktu 40 menit menggunakan pesawat wings hingga tiba di Pulau Buru Namlea.
Baca juga: Nusantara Jadi Arena Dunia: Menilik Pesatnya Tren Sport Tourism yang Menggerakkan Ekonomi Daerah!
Perjalanan kembali dilanjutkan dari penginapan menuju Desa Savana Jaya menggunakan mobil. Akses jalan di sana terpantau sudah cukup bagus dan menanjak bukit.
Memasuki arena Desa Savana Jaya, kontur jalanan mulai sedikit rusak. Tim sendiri tiba pukul 10.50 WITA.
Tak banyak waktu untuk bisa mengeksplore tempat ini, tim hanya berkunjung sejenak untuk melihat-lihat. Salah satu tempat pengasingan dalam hal ini Gedung Kesenian menjadi lokasi yang bisa diamati dalam waktu singkat ini.
Berdasarkan pantauan, bangunan itu terlihat sudah cukup lama. Pagar sendiri tidak terkunci sehingga membuat bangunan itu dapat diakses masyarakat secara luas.
Baca juga: Daftar Negara Eropa Paling Banyak Dikunjungi Turis, Keindahan Kota dan Kulinernya Bikin Betah
Kata warga sekitar, gedung itu memang sudah dipugar. Gedung tersebut kadang masih dipergunakan untuk kegiatan desa.
"Kalau ada acara di sini itu akan dipakai untuk acara-acara desa," kata salah satu warga.
Tak banyak warga yang ditemui pada siang kali ini. Alhasil, data atau cerita khas warga tidak kita dapati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan