Lanskap kota Hong Kong/Pixabay
INDOZONE.ID - Hong Kong adalah metropolis yang menawarkan segalanya, mulai dari hutan beton yang ikonik hingga jalur pendakian yang hijau.
Namun, tanpa perencanaan timing yang tepat, liburan impian Anda bisa berubah menjadi "drama" akibat cuaca ekstrem.
Jangan biarkan tiket pesawat yang sudah dibeli mahal-mahal berujung hanya dengan berdiam diri di dalam hotel karena badai.
Berikut adalah panduan pragmatis untuk memetakan kapan Anda harus berangkat dan kapan sebaiknya tetap di rumah:
Baca juga: 5 Rekomendasi Tempat Wisata di Hong Kong yang Bisa Dikunjungi Saat Musim Liburan
Jika Anda mencari cuaca yang paling bersahabat, ini adalah jendela waktu terbaik. Lupakan musim semi yang lembap atau musim panas yang membakar.
Mengapa Oktober-Desember? Pada periode ini, Hong Kong memasuki musim gugur dengan suhu sejuk (sekitar 19°C - 28°C), kelembapan rendah, dan yang paling penting: langit cerah yang konsisten.
Ini adalah waktu paling ideal untuk mengunjungi Victoria Peak atau naik kereta gantung ke Ngong Ping 360 tanpa terhalang kabut tebal.
Bagi penyuka foto, pencahayaan alami di bulan-bulan ini adalah yang terbaik untuk konten media sosial Anda.
Baca juga: Resep Ayam Goreng Hong Kong Lezat dan Crispy, Bikin Nagih
Bagi turis asal Indonesia yang terbiasa dengan hujan tropis biasa, musim panas di Hong Kong adalah "level" yang berbeda.
Juni hingga September adalah puncak musim topan. Hong Kong memiliki sistem peringatan badai (Signal 1 hingga 10).
Jika sinyal 8 ke atas sudah dikibarkan, kota ini praktis lumpuh: transportasi publik berhenti, toko tutup, dan penerbangan besar kemungkinan dibatalkan.
Selain risiko badai, kelembapan udara bisa mencapai 90% dengan suhu yang terasa seperti 40°C. Berjalan kaki di kawasan Tsim Sha Tsui saat siang hari pada bulan Juli akan terasa seperti sedang berada di dalam sauna raksasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan