Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 26 MARET 2026 • 08:47 WIB

Masjid Mantingan Jepara, Destinasi Wisata Religi yang Disebut “Taj Mahal” Versi Jawa

Masjid Mantingan Jepara, Destinasi Wisata Religi yang Disebut “Taj Mahal” Versi JawaBagian dalam Masjid Mantingan di Jepara yang disebut sebagai "Taj Mahal" versi Jawa (kemendikbud.go.id). 

INDOZONE.ID - Di tengah pesona budaya Pesisir Utara Jawa, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang penuh cerita cinta, politik, hingga akulturasi budaya. 

Namanya adalah Masjid Mantingan yang berada di wilayah Jepara. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga peninggalan penting perjalanan Islam di tanah Jawa yang sarat makna sejarah.

Banyak yang menyebut masjid ini sebagai salah satu yang tertua setelah Masjid Agung Demak, dengan jejak pembangunan yang diperkirakan berasal dari tahun 1559 Masehi berdasarkan prasasti kuno di area mihrabnya.

Baca juga: Panduan Wisata Padang 2026: Daftar Destinasi Hits, Harga Tiket Terbaru, dan Fasilitas Lengkap!

Dibangun dari Kisah Cinta dan Tragedi Kerajaan

Sejarah Masjid Mantingan erat kaitannya dengan tokoh Kesultanan Demak, yakni Ratu Kalinyamat dan suaminya Sultan Hadlirin. 

Sultan Hadlirin yang sebelumnya dikenal sebagai Raden Toyib merupakan ulama pengembara yang menimba ilmu hingga ke berbagai wilayah, termasuk Makkah, sebelum akhirnya menikah dengan Ratu Kalinyamat dan diangkat menjadi pemimpin di Jepara.

Namun, kehidupan mereka diwarnai konflik politik pada masa Sultan Trenggono yang berujung pada wafatnya Sultan Hadlirin. 

Kejadian tragis ini membuat Ratu Kalinyamat membangun kompleks masjid sekaligus makam di Mantingan sebagai bentuk cinta dan penghormatan, yang sering disebut-sebut memiliki kemiripan dengan kisah “monumen cinta” seperti Taj Mahal di India.

Baca juga: Bosan Bawa Pempek? Ini 5 Oleh-oleh Khas Palembang Unik yang Bikin Teman Terkesan!

Perpaduan Budaya yang Unik di Setiap Sudut Bangunan

Keistimewaan Masjid Mantingan terletak pada arsitekturnya yang unik dan penuh perpaduan budaya. Bangunannya menggabungkan unsur Jawa, Hindu-Buddha, hingga Tionghoa dalam satu kesatuan yang harmonis. 

Hal ini terlihat dari bentuk gapura melengkung, struktur bertingkat, serta ornamen yang kuat dipengaruhi seni era Majapahit.

Selain itu, beberapa detail seperti ubin dan dekorasi diduga memiliki sentuhan budaya Tionghoa, bahkan ada kemungkinan materialnya didatangkan dari luar wilayah pada masa itu. 

Perpaduan ini menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di Jawa berlangsung secara adaptif, tidak menghapus budaya lama, melainkan menyatu dengan kearifan lokal yang sudah ada.

Baca juga: Masjid Menara Kudus, Tempat Wisata Religi yang Penuh Filosofi dan Bukan Sekadar Tempat Ibadah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Banggabersarung.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Masjid Mantingan Jepara, Destinasi Wisata Religi yang Disebut “Taj Mahal” Versi Jawa

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!