Pasar Imlek Semawis. (Humas Jatengprov)
INDOZONE.ID - Semarang, Jawa Tengah (Jateng) menyambut Imlek atau Tahun Baru China dengan meriah. Seperti pada 2025, Pasar Imlek Semawis kembali hadir di kawasan Pecinan Semarang.
Semarang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kebersamaan di masyarakatnya. Kehadiran Pasar Imlek Semawis merupakan buktinya.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. (ANTARA/HO-Pemkot Semarang)
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyatakan Pasar Imlek Semawis merefleksikan nilai toleransi dan kebersamaan warga, selain sebagai bentuk perayaan budaya.
Kamu harus tahu, Pasar Imlek Semawis akan digelar di Jalan Gang Pinggir hingga Wotgandul Timur, Kawasan Pecinan Semarang, pada 13 hingga 15 Februari mendatang.
Baca juga: 7 Tempat Wisata Bersejarah di Semarang yang Memiliki Kesan Estetik dan Instagramable
Diketahui, perayaan jelang Imlek itu akan diawali dengan Tradisi Ketuk Pintu di Klenteng Tay Kak Sie. Tradisi ini merupakan simbol permohonan doa, keselamatan, dan kelancaran, sekaligus penanda harmoni lintas budaya di Semarang.
“Pasar Imlek Semawis menjadi ruang perjumpaan warga dari berbagai latar belakang. Di sinilah, kita melihat bahwa keberagaman di Kota Semarang hidup, dirawat, dan dirayakan bersama secara alami,” ungkap Agustina, dikutip dari Antara, Selasa (10/2/2026).
Melalui Pasar Imlek Semawis, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mendukung penguatan kohesi sosial dan kolaborasi antarkomunitas hingga pelaku usaha. Ini akan menjadikan Semarang kota inklusif dan harmonnis.
Acara ini dikunjungi masyarakat umum, bukan hanya komunitas Tionghoa. Pasar Imlek Semawis menyajikan beragam kuliner hingga kesenian khas Tionghoa, seperti Wayang Potehi, barongsai, Catur Gajah, Tarot Reading, kaligrafi Mandarin, dan Sketsa Postcard, dan ra Sun Go Kong.
Selain itu, ada juga cosplay budaya yang mendorong pengunjung mengenakan kebaya, busana adat Nusantara, dan kostum lintas budaya.
Ketua Komunitas Pecinan untuk (Kopi) Semawis, Harjanto Halim, menilai Pasar Imlek Semawis jadi tempat perjumpaan budaya, yang menunjukkan keberagaman di Semarang.
“Bunga mawar itu tidak perlu dipuji, keluarnya merah dan wangi. Keberagaman itu, ya kayak bunga, dia mau dipuji, mau nggak, ya tetap mekar,” ungkap Harjanto.
“Saya berharap Kota Semarang juga begitu. Tanpa harus dipuji, tanpa harus ditonton, keberagaman itu sudah jadi perilaku sehari-hari,” sambungnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara, Traveloka