Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 23 OKTOBER 2025 • 20:10 WIB

Dari Istiqlal ke Katedral, Cinta dan Toleransi Mengalir di Terowongan Silaturahim

Dari Istiqlal ke Katedral, Cinta dan Toleransi Mengalir di Terowongan SilaturahimTerowongan Silaturahim

INDOZONE.ID - Suasana hangat terasa di Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Jalur bawah tanah yang menjadi ikon toleransi ini kembali menjadi saksi peristiwa penuh makna, perayaan kebersamaan lintas iman yang digelar oleh Ikatan Alumni SMA Pangudi Luhur (IKPL) Jakarta.

Acara tersebut dimulai dengan prosesi simbolik di dalam terowongan, tempat perwakilan dua kelompok berjalan dari arah berbeda dan bertemu di tengah. Mereka membawa empat kunci persaudaraan, yang digunakan untuk membuka “pintu kasih”, lambang tekad untuk terus menjaga semangat kebinekaan dan saling menghargai.

Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan misa di Gereja Katedral yang dihadiri oleh para Bruder FIC, guru, siswa, dan alumni dari berbagai sekolah Katolik seperti Kanisius, Gonzaga, De Brito, Santa Ursula, Regina Pacis, Tarakanita, hingga Strada.

Baca juga: Menelusuri Wisata Religi di Indonesia: Dari Masjid Istiqlal hingga Gereja Santo Yosef

Simbol Kasih yang Menyatukan

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, Suparman, mengingatkan bahwa perbedaan adalah anugerah, bukan pemisah.

“Kita tidak perlu mempertentangkan perbedaan, karena semua agama mengajarkan kasih. Islam mengenal Ar-Rahman Ar-Rahim, Kristen mengajarkan kasih terhadap sesama. Jadi, perbedaan itu justru memperkaya kita sebagai bangsa,” ujarnya.

Pesan itu seolah menguatkan makna dari Terowongan Silaturahim, yang menjadi ruang yang bukan hanya menghubungkan dua bangunan suci, tapi juga dua hati yang berbeda keyakinan, dalam satu tujuan: kasih dan persaudaraan.

Toleransi sebagai Wujud Pendidikan Humanis

Ketua Ikatan Alumni Pangudi Luhur, Ichsan Perwira Kurniagung menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar peringatan Lustrum XII, melainkan bentuk nyata dari nilai kemanusiaan dan kebersamaan.

“Toleransi bukan slogan, tapi tindakan. Keberagaman adalah kekuatan yang justru membuat kita semakin kokoh,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pangudi Luhur, Fransiskus Asisi Dwiyatno, FIC, menambahkan bahwa semangat ini merupakan bagian dari pendidikan humanis yang dipegang teguh lembaga Pangudi Luhur.

“Kami ingin menanamkan pada generasi muda bahwa hidup berdampingan dalam damai adalah bentuk tertinggi dari pendidikan,” ujarnya.

Kehadiran keluarga besar arsitek Masjid Istiqlal, Friedrich Silaban, juga menambah makna mendalam. Koneksi sejarah antara Istiqlal dan Katedral, yang berdiri berdampingan sejak awal, kini seolah hidup kembali lewat simbol kasih dan persaudaraan.

Baca juga: Peringatan 1 Muharam 1447 Hijriah: Menggali Makna Hijrah di Masjid Istiqlal

Empat Kunci, Empat Makna

Prosesi empat kunci menjadi simbol utama dari kegiatan ini, masing-masing membawa makna mendalam:

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dari Istiqlal ke Katedral, Cinta dan Toleransi Mengalir di Terowongan Silaturahim

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!