Kamis, 09 APRIL 2026 • 17:25 WIB

Mengapa Namanya 'Mata Sapi' Padahal Bentuknya Tak Mirip? Ini Penjelasan Sejarahnya

Author

Telur mata sapi (PINTEREST)

INDOZONE.ID - Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa lauk sarapan paling populer di Indonesia, telur goreng dengan kuning yang masih utuh di tengah, dinamakan "telur mata sapi"? 

Padahal, jika diperhatikan baik-baik, bentuknya sama sekali tidak mirip dengan mata sapi sungguhan, melainkan lebih mirip telur goreng biasa aja!

Asumsi bahwa penamaan ini didasarkan pada kemiripan visual yang dangkal ternyata meleset jauh. Di balik istilah sederhana ini, tersembunyi sebuah perjalanan linguistik dan budaya yang menarik, yang membawa kita melintasi lautan dari Eropa hingga ke dapur-dapur di Indonesia.

Baca juga: Resep Telur Ceplok Tahu Kecap, Menu Makan Malam Simpel Pas Disantap dengan Nasi Hangat

Mata Sapi: Sebuah Adaptasi yang Terjajah dan Terserap

Ternyata, istilah "telur mata sapi" bukanlah penamaan asli Nusantara. Ini adalah hasil dari proses penyerapan bahasa dan budaya yang terjadi selama masa penjajahan Belanda di Indonesia.

1. Warisan Prancis: Oeil de Boeuf

Akar dari penamaan ini sebenarnya berasal dari Prancis. Dalam bahasa Prancis, istilah untuk telur goreng dengan kuning yang utuh dan "menonjol" adalah "Oeil de Boeuf".

Oeil sendiri memiliki arti, yakni mata. Sementara Boeuf berarti banteng atau lembu jantan atau kadangkala diterjemahkan sebagai sapi.

Jadi, secara harfiah, "Oeil de Boeuf" diterjemahkan sebagai "Mata Banteng". Penamaan ini didasarkan pada kemiripan visual kuning telur yang bulat dan menonjol di tengah putih telur yang mengelilinginya, yang secara abstrak menyerupai mata seekor banteng yang besar dan melotot.

Baca juga: Resep Nasi Telur Ceplok Wangi Lezat dan Praktis, Cocok untuk Anak Kos

2. Estafet Linguistik Belanda-Indonesia

Orang-orang Belanda yang menguasai Indonesia selama ratusan tahun, secara otomatis membawa serta budaya dan bahasa mereka, termasuk kuliner. Di dapur-dapur kolonial, resep dan istilah makanan Eropa mulai dikenal oleh penduduk pribumi yang bekerja sebagai juru masak atau pelayan.

  • Penyerapan oleh Belanda: Orang Belanda menyerap istilah "Œil de Bœuf" dari bahasa Prancis menjadi "Osseoog" dalam bahasa Belanda (di mana "Oss" berarti sapi/lembu, dan "oog" berarti mata).
  • Penerjemahan oleh Pribumi: Ketika orang Indonesia mulai mengenal dan membuat hidangan ini, mereka melakukan penerjemahan harfiah dari istilah "Osseoog" yang mereka dengar dari orang Belanda.

Alih-alih menyerap suaranya (seperti kata "bistik" dari "beefsteak"), mereka menerjemahkan makna kata per kata. "Oss" (sapi) dan "oog" (mata) diartikan secara langsung menjadi "mata sapi".

Mengapa Sapi, Bukan Banteng?

Meskipun kata "Bœuf" di Prancis berarti banteng, dalam bahasa Belanda "Oss" sering kali merujuk pada sapi atau lembu jantan.

Di Indonesia, kata "sapi" jauh lebih umum dan familiar digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan kuliner dibandingkan "banteng" atau "lembu".

Oleh karena itu, penerjemahan harfiah "Osseoog" menjadi "mata sapi" dirasa lebih wajar dan mudah diterima oleh lidah dan budaya masyarakat Indonesia pada masa itu.

Telur Ceplok: Penamaan yang Penuh Suara dan Onomatope

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki istilah lain untuk telur goreng: "Telur Ceplok". Berbeda dengan "mata sapi" yang berakar dari sejarah kolonial, "telur ceplok" adalah penamaan yang murni lahir dari budaya dan pengamatan langsung masyarakat pribumi.

Keajaiban Onomatope

Istilah "ceplok" adalah contoh klasik dari onomatope, suatu kata yang meniru suara yang dihasilkannya.

  • Suara Telur Pecah: Pikirkanlah suara yang terdengar ketika Anda mengocok telur dan memecahkannya di atas wajan yang panas. Ceplok!
  • Lahir dari Pengalaman: Penamaan ini tidak membutuhkan perantara bahasa atau budaya lain. Ia lahir langsung dari pengalaman sensori masyarakat saat mengolah makanan tersebut.

"Telur ceplok" adalah istilah yang lebih deskriptif secara auditori (pendengaran), sedangkan "telur mata sapi" adalah istilah yang deskriptif secara visual, meskipun visual yang didasarkan pada penerjemahan asing.

Piring sarapan kita, yang sering kali terlihat sederhana, ternyata menyimpan sejarah yang kaya. Telur mata sapi adalah bukti hidup dari bagaimana linguistik dan budaya bisa bermigrasi dan beradaptasi. 

Ia menceritakan kisah tentang penjajahan, penyerapan bahasa Prancis melalui perantara Belanda, dan kreativitas penerjemahan harfiah oleh masyarakat pribumi.

Sebaliknya, telur ceplok adalah cerminan dari bagaimana bahasa bisa lahir dari pengamatan langsung dan pengalaman hidup sehari-hari yang penuh warna.

Jadi, saat Anda menikmati telur mata sapi (atau telur ceplok) besok pagi, ingatlah bahwa Anda tidak hanya sedang sarapan, tetapi juga sedang "memakan" sepotong sejarah dan linguistik Indonesia yang menarik.

Bahasa itu dinamis, dan kuliner adalah salah satu kanvas paling lezat untuk melihat bagaimana budaya saling bersentuhan dan meninggalkan jejak. Telur mata sapi adalah salah satu jejak terlezat dalam sejarah linguistik Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Amatan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU