INDOZONE.ID - Kediri tidak hanya dikenal sebagai Kota Kretek, namun juga sebagai kota yang memiliki kedekatan historis dengan budaya kuliner Tionghoa.
Salah satu ikon yang paling mencolok dari perpaduan budaya antara Nusantara dengan Tionghoa adalah Tahu Takwa atau Tahu Kuning.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai sejarah, proses pembuatan, hingga peran tahu kuning dalam membentuk identitas masyarakat Kediri.
Baca juga: Gereja Puhsarang Hidden Gem Wisata Religi di Kediri Mampu Pikat Wisatawan
Sejarah: Warisan Imigran Tionghoa
Sejarah tahu kuning di Kediri dimulai pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1912. Adalah Lauw Soe Hoek (lebih dikenal dengan nama Mbah Bahak), seorang imigran asal Tiongkok yang pertama kali memproduksi tahu di Kediri.
Nama "Takwa" sendiri diyakini berasal dari kata "Kwan-wa" dalam bahasa Mandarin, yang kemudian mengalami penyesuaian lidah lokal menjadi "Takwa".
Kedatangan para imigran Tionghoa ini membawa teknik pembuatan tahu yang kemudian bertemu dengan kondisi alam Kediri, terutama kualitas airnya yang ternyata sangat cocok untuk menghasilkan tahu yang padat dan lembut.
Baca juga: Bukan Gimmick, Warung Makan di Kediri Ini Jual Bakso Cuma Rp3.000
Proses Pembuatan: Alami dan Tradisional
Keunikan utama tahu kuning Kediri terletak pada proses pewarnaannya yang tidak menggunakan bahan kimia.
- Pemilihan Kedelai: Menggunakan kedelai berkualitas tinggi yang digiling dan diambil sarinya.
- Pewarnaan Alami: Warna kuning ikonik didapatkan dari kunyit. Tahu yang sudah dicetak direbus bersama air kunyit dan garam. Kunyit tidak hanya memberi warna, tetapi juga berfungsi sebagai pengawet alami dan pemberi aroma khas.
- Tekstur Padat: Berbeda dengan tahu putih yang cenderung berair, tahu takwa ditekan lebih lama sehingga teksturnya menjadi sangat padat (kenyal) dan tidak mudah hancur saat digoreng.
Keunikan Rasa dan Tekstur
Tahu Kuning Kediri memiliki profil rasa yang sangat spesifik:
- Gurih dan Asin: Karena direbus dengan garam, tahu ini sudah memiliki rasa gurih meski belum dibumbui lagi.
- Aroma Rempah: Ada jejak aroma kunyit yang segar dan menghilangkan bau langu kedelai.
- Bagian Luar yang "Crunchy": Saat digoreng, kulit luar tahu kuning akan menjadi sangat renyah, sementara bagian dalamnya tetap lembut dan padat.
Identitas Daerah dan Peran Ekonomi
Tahu kuning telah menjadi identitas budaya bagi Kediri. Kuliner ini menciptakan ekosistem ekonomi yang kuat, mulai dari pengrajin tahu rumahan hingga toko pusat oleh-oleh besar.
Tahu ini merupakan bukti nyata bagaimana budaya Tionghoa yang merupakan pendatang lalu menyatu sempurna dengan kearifan lokal, yakni penggunaan kunyit hingga menjadi kebanggaan seluruh warga Kediri tanpa memandang latar belakang.
Nampaknya belum sah rasanya mengunjungi Kediri tanpa membawa "besek" alias wadah bambu berisi tahu kuning. Hal ini menjadikan tahu kuning sebagai motor penggerak wisata kuliner daerah.
Tahu kuning bukan sekadar hidangan di atas meja makan, ia adalah potongan sejarah yang terus digoreng dalam kuali zaman.
Keberadaannya mengingatkan kita bahwa keberagaman, jika diolah dengan pas seperti tahu dan kunyit, akan menghasilkan sesuatu yang istimewa dan dicintai lintas generasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan